Khutbah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-34

 

KHUTBAH JUMAT

Amar Ma'ruf Nahi Munkar: Tanggung Jawab Iman dan Pilar Perbaikan Masyarakat

Telaah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-34

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله رب العالمين، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه إلى يوم الدين.

أما بعد،

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد، وخير ما يدخره العبد ليوم المعاد.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Salah satu keistimewaan Islam adalah bahwa ia tidak hanya membina kesalehan pribadi, tetapi juga membangun kesalehan sosial. Islam tidak menghendaki seorang muslim hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri, sementara kemungkaran merajalela di sekitarnya. Islam mengajarkan tanggung jawab moral untuk menjaga kebaikan dan mencegah kerusakan.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman."

(HR. Sahih Muslim)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hadits ini menjelaskan bahwa iman bukan sekadar keyakinan yang tersimpan dalam hati. Iman harus melahirkan kepedulian. Iman harus melahirkan keberanian untuk membela kebenaran. Iman harus mendorong seorang muslim menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi penonton yang apatis terhadap kerusakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji umat ini dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."

(QS. Ali Imran: 110)

Predikat "umat terbaik" tidak diberikan karena banyaknya jumlah umat Islam, bukan pula karena kemajuan peradaban semata, tetapi karena mereka menjalankan amanah amar ma'ruf nahi munkar.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Namun kita harus memahami bahwa amar ma'ruf nahi munkar memiliki adab dan aturan.

Hadits ini menggunakan kata "melihat", yang oleh para ulama dijelaskan bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi mengetahui secara yakin bahwa sesuatu itu benar-benar kemungkaran menurut syariat.

Karena itu Islam melarang prasangka.

Islam melarang fitnah.

Islam melarang mencari-cari kesalahan orang lain.

Allah berfirman:

وَلَا تَجَسَّسُوا

"Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain."

(QS. Al-Hujurat: 12)

Sering kali seseorang bersemangat mengoreksi orang lain, tetapi melanggar syariat dalam caranya. Padahal tujuan yang baik tidak membenarkan cara yang salah.

Kita dapat belajar dari kisah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Suatu malam beliau mendapati seseorang melakukan kemaksiatan setelah masuk ke rumahnya dengan cara yang tidak semestinya. Orang tersebut mengingatkan bahwa meskipun ia bersalah, sang khalifah telah melakukan pelanggaran dengan memata-matai dan masuk tanpa izin. Umar menerima nasihat itu dan menyadari kekeliruannya.

Pelajaran besar dari kisah ini adalah bahwa mencegah kemungkaran harus dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat.

Jamaah rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ menjelaskan tiga tingkatan dalam mengubah kemungkaran.

Pertama, dengan tangan, yaitu dengan kekuasaan dan kewenangan yang sah. Orang tua berwenang mendidik anaknya. Guru berwenang membina muridnya. Pemimpin berwenang menegakkan aturan di wilayahnya.

Kedua, dengan lisan. Inilah jalan yang paling banyak dilakukan para ulama, guru, dai, dan para pendidik. Menasihati dengan hikmah, mengingatkan dengan kelembutan, dan mengajak kepada kebenaran dengan kasih sayang.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik."

(QS. An-Nahl: 125)

Maka dakwah bukanlah mencaci. Nasihat bukanlah mempermalukan. Amar ma'ruf nahi munkar bukanlah melampiaskan kemarahan.

Tujuannya adalah memperbaiki, bukan menghancurkan.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


KHUTBAH KEDUA

الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tingkatan ketiga dalam hadits ini adalah mengingkari kemungkaran dengan hati.

Artinya, apabila seseorang tidak memiliki kekuasaan dan tidak mampu berbicara karena alasan yang dibenarkan, maka minimal ia tetap membenci kemungkaran tersebut dalam hatinya.

Ia tidak meridhainya.

Ia tidak mendukungnya.

Ia tidak ikut menyebarkannya.

Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai:

وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

"Dan itulah selemah-lemahnya iman."

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh kehilangan sensitivitas moralnya.

Ketika kemaksiatan dianggap biasa, ketika kebohongan dianggap lumrah, ketika korupsi dianggap wajar, ketika fitnah dianggap hiburan, maka sesungguhnya sedang terjadi krisis iman dalam masyarakat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini bentuk-bentuk kemungkaran hadir dalam wajah yang beragam.

Penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial.

Korupsi dan penyalahgunaan amanah.

Pergaulan bebas yang merusak generasi.

Ketidakjujuran dalam pendidikan dan akademik.

Konten-konten yang merusak akhlak anak-anak dan remaja.

Menghadapi semua itu, umat Islam tidak boleh bersikap acuh tak acuh.

Mulailah dari diri sendiri.

Perbaiki ibadah kita.

Perbaiki akhlak kita.

Didik keluarga kita.

Bimbing anak-anak kita.

Hidupkan budaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari perbaikan yang kecil namun konsisten.

Marilah kita menjadi umat yang tidak hanya saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.

Menjadi umat yang berani menyampaikan kebenaran dengan hikmah.

Menjadi umat yang membenci kemungkaran tanpa kehilangan akhlak.

Dan menjadi umat yang memperjuangkan perbaikan tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

اللهم أصلح أحوال المسلمين.

اللهم اجعلنا من الآمرين بالمعروف والناهين عن المنكر.

اللهم ارزقنا الحكمة في الدعوة، والصدق في النصيحة، والإخلاص في العمل.

اللهم أصلح أبناءنا وبناتنا، وأصلح أسرنا ومجتمعاتنا.

اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلّى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

وأقم الصلاة

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-31

HADITS 5

HADITS 21