Khutbah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-31

 

Menjadi Hamba yang Dicintai Allah dan Dicintai Manusia

Telaah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-31

Khutbah Pertama

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Setiap manusia ingin dicintai. Tidak ada seorang pun yang senang dibenci atau dijauhi. Kita ingin dicintai keluarga, dihormati masyarakat, dan diterima oleh lingkungan sekitar. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana agar kita dicintai Allah?

Pertanyaan inilah yang pernah diajukan seorang sahabat kepada Rasulullah ﷺ.

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ»

"Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku melakukannya Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku."

Rasulullah ﷺ menjawab:

"Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Perhatikanlah, sahabat ini tidak bertanya tentang cara menjadi kaya, tidak bertanya tentang jabatan, tidak pula bertanya tentang kekuasaan. Yang ia cari adalah sesuatu yang jauh lebih tinggi nilainya: cinta Allah dan cinta manusia.

Inilah orientasi hidup seorang mukmin. Ketika kebanyakan manusia sibuk mengejar dunia, orang-orang beriman justru sibuk mencari ridha Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Ali Imran: 134)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ menjawab dengan satu kata yang sangat dalam maknanya, yaitu zuhud.

Namun banyak orang salah memahami zuhud. Ada yang mengira zuhud berarti miskin, meninggalkan pekerjaan, menjauhi harta, atau hidup serba kekurangan.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa zuhud bukanlah meninggalkan dunia dari tangan kita, melainkan mengeluarkan dunia dari hati kita.

Seseorang boleh memiliki rumah yang besar, kendaraan yang baik, usaha yang maju, bahkan kekayaan yang melimpah. Namun selama semua itu tidak menguasai hatinya dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka ia tetap seorang yang zuhud.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya sedikit tetapi hatinya sangat bergantung kepada dunia. Ia selalu gelisah karena uang, iri kepada orang lain, dan tidak pernah merasa cukup. Orang seperti ini belum merasakan hakikat zuhud.

Jamaah yang berbahagia,

Bentuk zuhud yang pertama adalah meninggalkan maksiat.

Betapa banyak manusia yang menjual agamanya demi keuntungan dunia yang sesaat. Ada yang mengambil riba demi memperkaya diri. Ada yang menipu demi keuntungan. Ada yang mengorbankan kehormatan dan syariat demi popularitas.

Padahal Allah mengingatkan:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu."
(QS. Ali Imran: 185)

Zuhud berarti berani meninggalkan keuntungan yang haram demi mencari keberkahan yang halal.

Zuhud berarti lebih memilih ridha Allah daripada pujian manusia.

Zuhud berarti menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat, bukan sebagai tujuan hidup.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Bentuk zuhud yang kedua adalah tidak membiarkan dunia melalaikan kita dari Allah.

Hari ini manusia hidup di tengah kesibukan yang luar biasa. Waktu habis untuk bekerja, mencari penghasilan, mengejar target, dan memenuhi berbagai keinginan duniawi.

Tetapi pertanyaannya, apakah kesibukan itu semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya?

Jangan sampai pekerjaan membuat kita meninggalkan shalat.

Jangan sampai bisnis membuat kita melupakan Al-Qur'an.

Jangan sampai kesibukan dunia menghilangkan kesempatan kita untuk berzikir dan berdoa.

Karena dunia yang paling berbahaya bukanlah dunia yang ada di tangan kita, melainkan dunia yang masuk ke dalam hati kita.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa dunia hanyalah sarana. Adapun tujuan sejati seorang mukmin adalah kehidupan akhirat yang kekal.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Bagian kedua hadits ini tidak kalah pentingnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ»

"Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu."

Mengapa manusia mencintai orang yang tidak bergantung kepada mereka?

Karena manusia secara fitrah tidak menyukai orang yang tamak.

Manusia tidak suka kepada orang yang selalu meminta.

Manusia tidak suka kepada orang yang iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Sebaliknya, manusia menghormati orang yang memiliki harga diri, qana'ah, dan kemandirian.

Orang yang hatinya kaya tidak akan sibuk menghitung rezeki orang lain.

Orang yang qana'ah tidak akan tersiksa oleh keberhasilan orang lain.

Orang yang bergantung kepada Allah tidak akan merendahkan dirinya di hadapan manusia.

Inilah salah satu penyakit besar zaman kita. Banyak orang hidup dalam perlombaan sosial yang tidak pernah selesai. Mereka membandingkan rumahnya dengan rumah orang lain, kendaraan dengan kendaraan orang lain, jabatan dengan jabatan orang lain, bahkan ibadah pun terkadang dibanding-bandingkan.

Akibatnya hati menjadi sempit, mudah iri, mudah kecewa, dan sulit bersyukur.

Padahal kebahagiaan bukanlah memiliki semua yang kita inginkan, melainkan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hadits ini mengajarkan keseimbangan yang indah.

Hubungan dengan Allah dibangun melalui zuhud terhadap dunia.

Hubungan dengan manusia dibangun melalui kemandirian dan qana'ah.

Ketika hati tidak diperbudak dunia, Allah akan mencintai kita.

Ketika hati tidak bergantung kepada manusia, manusia pun akan menghormati dan mencintai kita.

Marilah kita memohon kepada Allah agar diberi hati yang zuhud, jiwa yang qana'ah, dan kehidupan yang penuh keberkahan.

اللهم إنا نسألك حبك وحب من يحبك وحب كل عمل يقربنا إلى حبك.

اللهم اجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعلها في قلوبنا.

اللهم ارزقنا القناعة والرضا والزهد فيما لا ينفعنا.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلّى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

وأقم الصلاة.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 21