Khutbah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-32
KHUTBAH JUMAT
Larangan Berbuat Mudarat dan Membangun Kehidupan yang Rahmatan lil 'Alamin
Telaah Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-32
KHUTBAH PERTAMA
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد ليوم المعاد.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara keindahan ajaran Islam adalah bahwa agama ini dibangun di atas rahmat, keadilan, dan kemaslahatan. Islam datang bukan untuk menyulitkan manusia, bukan pula untuk menimbulkan kerusakan, tetapi untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta manusia.
Karena itu, Rasulullah ﷺ meletakkan sebuah kaidah agung yang menjadi dasar kehidupan seorang muslim. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
"Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan."
Hadits yang sangat singkat ini oleh para ulama disebut sebagai salah satu kaidah terbesar dalam syariat Islam. Bahkan banyak hukum Islam dibangun di atas prinsip ini, yaitu bahwa segala bentuk kemudaratan harus dicegah dan dihilangkan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kata "dharar" berarti melakukan sesuatu yang merugikan atau menyakiti orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.
Sedangkan "dhirar" berarti membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar, atau melakukan tindakan yang menimbulkan kerugian timbal balik.
Dengan demikian, Rasulullah ﷺ mengajarkan dua prinsip besar:
Pertama, jangan menjadi sumber kemudaratan bagi orang lain.
Kedua, jangan menyelesaikan masalah dengan cara yang melahirkan kemudaratan yang lebih besar.
Betapa banyak konflik rumah tangga, perselisihan masyarakat, bahkan pertikaian antarbangsa terjadi karena manusia melupakan dua prinsip sederhana ini.
Allah Ta'ala berfirman:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
"Dan Allah tidak menyukai kerusakan."
(QS. Al-Baqarah: 205)
Seorang mukmin bukanlah orang yang hanya rajin beribadah, tetapi juga orang yang kehadirannya membawa keamanan dan ketenangan bagi orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
Jamaah rahimakumullah,
Jika kita renungkan, banyak kemudaratan yang justru lahir dari hal-hal yang dianggap kecil.
Lisan yang tidak dijaga dapat menghancurkan persaudaraan.
Tulisan di media sosial dapat merusak kehormatan seseorang.
Sikap egois dapat memecah belah keluarga.
Keserakahan dapat menghancurkan keadilan ekonomi.
Bahkan suara yang keras, sampah yang dibuang sembarangan, atau kendaraan yang diparkir secara sembarangan dapat menjadi bentuk kemudaratan yang dilarang oleh agama.
Karena itu Islam mendidik umatnya agar memiliki kepekaan sosial.
Ketika seseorang hendak berbicara, ia berpikir: apakah perkataan ini bermanfaat atau justru menyakiti?
Ketika hendak bertindak, ia bertanya pada dirinya: apakah tindakan ini membawa maslahat atau malah merugikan orang lain?
Inilah akhlak seorang mukmin yang matang.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam ibadah pun Islam mengajarkan agar tidak menimbulkan kemudaratan.
Kita mengenal kisah sahabat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu yang pernah mengimami shalat Isya dengan bacaan yang sangat panjang. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau menegurnya karena di belakang imam terdapat orang tua, orang sakit, dan orang yang memiliki keperluan.
Dari sini kita belajar bahwa semangat beribadah tidak boleh menghilangkan kepekaan terhadap kondisi orang lain.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai semangat kita dalam suatu perkara justru membuat orang lain menderita.
Jangan sampai kebijakan yang kita buat menyulitkan orang banyak.
Jangan sampai kekuasaan yang kita miliki digunakan untuk menekan orang lain.
Karena Islam adalah agama yang membawa rahmat, bukan kesulitan.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Bagian kedua dari hadits ini mengajarkan pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan kita hari ini, yaitu bagaimana menyikapi kesalahan dan perlakuan buruk dari orang lain.
Islam tidak mengajarkan balas dendam yang melampaui batas.
Ketika seseorang dizalimi, ia memiliki hak untuk menuntut keadilan. Namun Islam melarang membalas dengan kezaliman yang lebih besar.
Allah Ta'ala berfirman:
فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
"Barang siapa menyerang kalian, maka balaslah seimbang dengan serangannya terhadap kalian."
(QS. Al-Baqarah: 194)
Namun setelah itu Allah mengingatkan:
وَاتَّقُوا اللَّهَ
"Dan bertakwalah kepada Allah."
Artinya, sekalipun dalam membalas kesalahan, seorang mukmin tetap harus dikendalikan oleh ketakwaan, bukan oleh amarah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di zaman sekarang bentuk kemudaratan semakin beragam.
Perundungan terhadap anak-anak.
Fitnah dan ujaran kebencian di media sosial.
Korupsi yang merugikan masyarakat.
Eksploitasi alam yang merusak lingkungan.
Penyalahgunaan ilmu dan teknologi untuk kepentingan yang merugikan manusia.
Semua itu bertentangan dengan sabda Nabi ﷺ:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Karena itu marilah kita jadikan hadits ini sebagai pedoman hidup.
Di rumah, jadilah anggota keluarga yang membawa ketenangan.
Di tempat kerja, jadilah pribadi yang jujur dan tidak merugikan orang lain.
Di lingkungan masyarakat, jadilah tetangga yang menyenangkan.
Di dunia pendidikan, jadilah pendidik dan peserta didik yang saling memudahkan dan saling menghormati.
Sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya.
Mari kita berdoa kepada Allah agar dijadikan hamba yang membawa maslahat bagi kehidupan.
اللهم اجعلنا مفاتيح للخير مغاليق للشر.
اللهم جنبنا الظلم والعدوان، وجنبنا الإضرار بعبادك.
اللهم أصلح أحوال المسلمين في كل مكان.
اللهم ألف بين قلوبنا، وأصلح ذات بيننا، واهدنا سبل السلام.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
وأقم الصلاة.
Komentar
Posting Komentar