HADITS 40

 

🌿 Hadits ke-40 dari Al-Arba'in An-Nawawiyyah

Kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah berarti “Empat Puluh Hadits”. Kitab ini disusun oleh ulama besar, yaitu:

Imam An-Nawawi رحمه الله

Walaupun dinamakan Arba’in (40), sebenarnya beliau tidak hanya mencantumkan 40 hadits.
Beliau menambahkan dua hadits lagi sebagai penyempurna, sehingga jumlahnya menjadi 42 hadits.

Pada pembahasan ini, kita membahas hadits ke-4 sebagaimana urutan dalam sebagian penjelasan para ulama, yaitu hadits tentang hidup sebagai orang asing di dunia.


📖 Teks Hadits

Dari:

Abdullah bin Umar رضي الله عنهما

Beliau berkata:

أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Rasulullah ﷺ memegang kedua pundakku lalu bersabda:

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang musafir yang sedang melewati suatu jalan.”
(HR. Bukhari)


🌍 Makna Besar Hadits Ini

Hadits ini adalah nasihat luar biasa dari Rasulullah ﷺ agar kita:

  • Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

  • Tidak merasa dunia adalah tempat tinggal selamanya.

  • Tidak terlalu terikat dengan kenikmatan dunia.

Karena sejatinya:

👉 Dunia hanyalah tempat persinggahan.
👉 Kampung halaman kita yang sebenarnya adalah akhirat.


🏡 Di Mana Tanah Air Kita yang Sebenarnya?

Manusia pertama, yaitu:

Adam عليه السلام

dan istrinya:

Hawa

berasal dari Surga. Kemudian mereka diturunkan ke bumi.

Artinya, asal penciptaan manusia adalah dari Surga, dan orang beriman akan kembali ke Surga.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa:

“Tanah air sejati orang beriman adalah Surga.”

Bukan dunia ini.


🚶 Dunia Seperti Tempat Persinggahan

Rasulullah ﷺ menyuruh kita hidup seperti:

1️⃣ Orang Asing (غريب)

Orang asing di suatu negeri:

  • Tidak membangun rumah mewah.

  • Tidak terlalu terikat dengan lingkungan.

  • Selalu ingat kampung halamannya.

  • Mengirim hasil kerjanya ke kampung halaman.

Begitulah seharusnya seorang mukmin.

Segala amal kebaikan yang kita lakukan di dunia ini seperti:

  • Sedekah

  • Shalat

  • Puasa

  • Dzikir

  • Menolong orang

Semua itu seperti “kiriman” untuk kampung halaman kita di akhirat.


2️⃣ Musafir (عابر سبيل)

Musafir:

  • Tidak menetap lama.

  • Tidak terlalu sibuk memperindah tempat singgah.

  • Fokus pada tujuan perjalanan.

Begitulah dunia.
Ia bukan tempat menetap, tetapi hanya perjalanan menuju akhirat.


⚠ Bahaya “Menikahi Dunia”

Dalam ceramah disebutkan perumpamaan:

Jika seseorang hanya datang bekerja di suatu tempat, ia akan:

  • Menabung untuk kampung halamannya.

  • Tidak terlalu mencintai tempat singgah.

Namun jika ia “menikah” di tempat itu dan merasa itu rumah selamanya, ia akan lupa kampung halamannya.

Demikian pula manusia:

Jika “menikah” dengan dunia (terlalu mencintainya), maka:

  • Ia lupa akhirat.

  • Ia lupa mengirim amal.

  • Ia sibuk dengan dunia.

  • Ia menunda taubat.

Inilah penyakit besar yang disebut: Hubbud Dunya (cinta dunia berlebihan).


⏳ Dunia Menjauh, Akhirat Mendekat

Diriwayatkan dari:

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

Beliau berkata:

“Sesungguhnya dunia itu sedang pergi menjauh, dan akhirat sedang datang mendekat.
Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia.”

Artinya:

  • Setiap hari umur kita berkurang.

  • Setiap hari kita semakin dekat ke kubur.

  • Setiap hari dunia semakin meninggalkan kita.

Walaupun kita merasa dunia masih panjang, kenyataannya kita sedang berjalan menuju kematian.


📊 Dunia Tempat Amal, Akhirat Tempat Hisab

Di dunia:

✔ Kita bisa shalat
✔ Kita bisa puasa
✔ Kita bisa taubat
✔ Kita bisa sedekah

Di akhirat:

❌ Tidak ada lagi amal
✔ Yang ada hanya hisab (perhitungan)

Karena itu, dunia adalah ladang menanam.
Akhirat adalah tempat panen.


🧓 Kisah Ulama dengan Seorang Lelaki

Dikisahkan seorang ulama bertanya kepada seseorang:

“Berapa umurmu?”

Ia menjawab: “60 tahun.”

Ulama itu berkata:

“Berarti engkau telah berjalan selama 60 tahun menuju Allah. Dan engkau hampir sampai.”

Orang itu menangis dan berkata:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Ulama itu berkata:

“Siapa yang sadar bahwa ia milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban.”

Karena kelak kita akan ditanya:

  • Dari mana harta diperoleh?

  • Ke mana harta dibelanjakan?

  • Untuk apa umur dihabiskan?

  • Apa yang dilakukan dengan ilmu?


🛠 Cara Selamat di Akhirat

Orang itu bertanya:

“Apa caranya agar selamat?”

Ulama menjawab:

“Gunakan sisa umurmu untuk taat kepada Allah.
Jika sisa umurmu baik, maka yang lalu akan diampuni.
Tetapi jika sisa umurmu buruk, maka semua akan diperhitungkan.”

Ini menunjukkan:

👉 Sisa umur lebih penting daripada umur yang telah lewat.


🌅 Jangan Menunda-Nunda

Ibnu Umar berkata:

“Jika engkau berada di waktu sore, jangan tunggu pagi.
Jika engkau berada di waktu pagi, jangan tunggu sore.”

Maknanya ada dua:

1️⃣ Jangan merasa pasti hidup esok hari

Panjang angan-angan adalah penyakit hati.

Orang yang merasa hidup masih lama akan:

  • Menunda taubat.

  • Menunda memperbaiki diri.

  • Menunda minta maaf.

  • Menunda meninggalkan riba.

  • Menunda berhenti dari maksiat.

Padahal bisa saja malam ini ajal datang.


2️⃣ Jangan tunda kebaikan

Jika terlintas di hati ingin:

  • Bersedekah

  • Taubat

  • Minta maaf

  • Mengembalikan hak orang

  • Berhenti dari riba

Maka lakukan segera.

Menunda kebaikan adalah penyakit besar.


🌟 Tiga Kemuliaan Jika Kita Sadar Kematian

Jika kita benar-benar merasa umur singkat, Allah akan memberi:

1️⃣ Cepat bertaubat
2️⃣ Hati yang lembut
3️⃣ Semangat ibadah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalatlah seperti shalat orang yang akan berpisah.”

Artinya: shalatlah seolah-olah itu shalat terakhirmu.


🏥 Manfaatkan Sehat Sebelum Sakit

Ibnu Umar juga berkata:

“Ambillah dari waktu sehatmu untuk waktu sakitmu.
Ambillah dari waktu hidupmu untuk waktu matimu.”

Jika kita terbiasa:

  • Tahajud saat sehat,

  • Shalat berjamaah,

  • Mengaji,

  • Menuntut ilmu,

Maka ketika sakit atau safar, Allah tetap menulis pahala seperti biasa.

Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Jika seorang hamba sakit atau safar, ditulis baginya pahala seperti ketika ia mukim dan sehat.”


⚖ Selesaikan Urusan Sebelum Mati

Jika kita ingin mati dalam keadaan husnul khatimah, maka:

  • Selesaikan hutang.

  • Minta maaf kepada orang yang dizalimi.

  • Kembalikan hak orang.

  • Tinggalkan riba.

  • Putuskan maksiat.

Karena mati membawa dosa yang belum diselesaikan sangat berbahaya.


❤️ Mengapa Nasihat Ini Kadang Tidak Berbekas?

Karena hati manusia ada dua jenis:

1️⃣ Hati yang bersih → mudah menerima nasihat.
2️⃣ Hati yang dipenuhi cinta dunia → keras dan gelap.

Jika hati dikuasai hubbud dunya:

  • Hadits tidak menyentuh.

  • Nasihat tidak masuk.

  • Bahkan Al-Qur’an terasa biasa.

Ini tanda hati sedang sakit.


🌸 Kesimpulan Besar Hadits Ini

Hadits ini mengajarkan:

✔ Dunia hanya tempat singgah
✔ Akhirat adalah kampung halaman
✔ Jangan merasa panjang umur
✔ Jangan menunda taubat
✔ Jangan menunda kebaikan
✔ Selesaikan hak manusia sebelum mati
✔ Gunakan sehat sebelum sakit
✔ Gunakan hidup sebelum mati

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang hidup seperti musafir di dunia dan kembali ke kampung halaman kita dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3