HADITS 4

  

Hadits Arbain An-Nawawi ke-4

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُإِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌفَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan dipercaya bersabda:

“Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama 40 hari, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama 40 hari. Setelah itu Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sungguh ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak dirinya dengan surga hanya sehasta, namun ketentuan Allah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga masuklah ia ke dalam neraka. Dan ada pula yang beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak dirinya dengan neraka tinggal sehasta, namun ketentuan Allah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga sehingga masuklah ia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kandungan dan Penjelasan Hadits

1. Tahapan Penciptaan Manusia

Rasulullah menjelaskan bahwa penciptaan manusia dalam rahim ibu berlangsung dalam tiga tahap, masing-masing 40 hari:

  • Nutfah (air mani) – hari ke-1 sampai ke-40.
  • Alaqah (segumpal darah yang melekat) – hari ke-41 sampai ke-80.
  • Mudghah (segumpal daging) – hari ke-81 sampai ke-120.

Setelah 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh.

 

2. Penetapan Takdir

Ketika ruh ditiupkan, malaikat mencatat empat hal:

1.     Rezekinya – apa yang akan ia makan, miliki, dan dapatkan selama hidup.

2.     Ajalnya – kapan dan di mana ia akan meninggal.

3.     Amalnya – apa yang akan ia kerjakan, baik amal saleh maupun keburukan.

4.     Nasibnya – apakah ia akan bahagia (masuk surga) atau celaka (masuk neraka).

 

3. Kehendak Allah dan Takdir

Hadits ini mengajarkan bahwa takdir Allah pasti terjadi. Manusia tidak boleh terlalu merasa aman dengan amal saleh yang ia lakukan, juga tidak boleh putus asa karena dosa.

Contoh:

  • Ada orang yang sepanjang hidupnya terlihat baik, rajin beribadah, tetapi menjelang ajal ia melakukan dosa besar lalu meninggal dalam keadaan buruk.
  • Ada pula orang yang dulunya penuh maksiat, tetapi menjelang akhir hayat ia bertaubat dengan sungguh-sungguh sehingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

4. Hikmah dan Pelajaran

  • Jangan sombong dengan amal kebaikan. Selalu minta kepada Allah agar diberi keteguhan iman sampai mati.
  • Jangan putus asa karena dosa. Selama masih hidup, pintu taubat selalu terbuka.
  • Doa dan usaha tetap penting. Meskipun takdir sudah ditetapkan, manusia tetap diperintahkan untuk beramal saleh.

 

 

 

 

Transkrip Ceramah – Penjelasan Hadits Arbain ke-4

Pembukaan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, dan memuliakan kita dengan diutusnya junjungan kita Nabi Muhammad 
. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad , keluarga, sahabat, zuriat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Yang kita hormati para habaib, para ulama, serta hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Mari kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memberikan taufik, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kita dapat kembali berkumpul dalam majelis zikir yang penuh berkah ini.

Pembacaan Hadits

Malam ini kita sampai pada hadits yang ke-4 dari Arba’in An-Nawawiyah. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:

Rasulullah  yang benar lagi dibenarkan bersabda:

“Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dihimpun dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani). Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama 40 hari, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama 40 hari. Setelah itu Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya, lalu diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya, apakah celaka atau bahagia.”


Penjelasan Hadits

1. Tahapan Penciptaan Manusia

Rasulullah  menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam rahim melalui beberapa tahap:

1.     40 hari pertama – berupa nutfah (air mani).

2.     40 hari kedua – berupa ‘alaqah (segumpal darah yang melekat).

3.     40 hari ketiga – berupa mudghah (segumpal daging).

Setelah 120 hari (4 bulan), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin. Dari saat itulah janin mulai hidup dan bergerak dalam kandungan ibunya.

📌 Contoh: Saat janin sudah berumur 4 bulan, ibu hamil biasanya mulai merasakan gerakan bayinya. Itu pertanda ruh sudah ditiupkan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini.


2. Hukum Fikih Terkait Kandungan

Hadits ini juga menjadi dasar hukum dalam fikih, terutama tentang keguguran. Para ulama menjelaskan beberapa ketentuan:

1.     Keguguran berupa segumpal darah (belum berbentuk janin, sebelum 4 bulan):
Tidak ada kewajiban dimandikan atau dikafani, cukup diperlakukan seperti darah haid yang keluar.

2.     Keguguran sebelum 4 bulan, tetapi sudah berbentuk janin:
Wajib dikafani, dishalatkan, dan diperlakukan sebagaimana jenazah, meskipun belum ditiupkan ruh.

3.     Keguguran sesudah 4 bulan, tetapi tidak sempat hidup:
Wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan seperti jenazah biasa.

4.     Keguguran sesudah 4 bulan, sempat lahir hidup, lalu meninggal:
Hukumnya sama dengan jenazah orang dewasa, wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan.

📌 Contoh: Seorang ibu yang hamil 5 bulan lalu mengalami keguguran. Janinnya sudah bergerak sebelumnya, maka hukumnya wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, lalu dikuburkan.


3. Hukum Menggugurkan Kandungan

Hadits ini juga menjadi dasar larangan keras menggugurkan kandungan, terutama setelah ditiupkan ruh.

  • Jika janin sudah berumur 4 bulan dan hidup lalu digugurkan, maka hukumnya dosa besar dan dianggap sebagai pembunuhan.
  • Rasulullah  menjelaskan bahwa anak yang digugurkan secara zalim akan menuntut orang tuanya di hari kiamat dengan berkata: “Ya Allah, inilah orang yang membunuhku.”

📌 Contoh: Seorang wanita yang menggugurkan kandungan setelah bayinya berusia 6 bulan tanpa alasan syar’i (seperti membahayakan nyawanya), maka perbuatannya termasuk dosa besar dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


4. Hikmah Tasawuf

Dari sisi tasawuf, hadits ini menunjukkan bahwa segala sesuatu membutuhkan tahapan.

  • Janin tidak langsung menjadi manusia sempurna, tetapi melalui proses: nutfah → ‘alaqah → mudghah → ditiupkan ruh.
  • Demikian pula seorang hamba dalam menempuh jalan menuju Allah. Tidak bisa langsung mencapai makrifat atau musyahadah, tetapi harus melewati tahapan-tahapan: muraqabah, muhasabah, mujahadah, hingga akhirnya sampai pada musyahadah (penyaksian hakikat Allah).

📌 Contoh: Seorang murid thariqah tidak bisa langsung mencapai derajat ma’rifat, tetapi harus melewati latihan ruhani seperti dzikir, muhasabah, sabar, dan mujahadah.


Kesimpulan

Hadits ke-4 dari Arba’in An-Nawawi ini mengandung pelajaran besar tentang:

1.     Tahapan penciptaan manusia dalam rahim.

2.     Penetapan takdir sejak dalam kandungan.

3.     Hukum fikih terkait keguguran dan larangan menggugurkan janin.

4.     Hikmah tasawuf bahwa kesempurnaan membutuhkan proses bertahap.

➡️ Hadits ini mengingatkan kita agar:

  • Tidak meremehkan dosa, termasuk dosa menggugurkan kandungan.
  • Senantiasa berdoa agar diberi husnul khatimah.
  • Sabar menapaki tahapan dalam hidup maupun dalam mendekatkan diri kepada Allah.

 

Malaikat Meniupkan Ruh

Para ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum menggugurkan kandungan. Ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak boleh. Namun itu hanya berlaku untuk janin yang belum ditiupkan ruh.

Rasulullah  menjelaskan bahwa setelah janin berusia 120 hari (4 bulan), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada ubun-ubun janin, sehingga ia hidup dalam perut ibunya.

Malaikat tersebut juga diperintahkan untuk menulis empat perkara pada diri manusia:

1.     Rezekinya – apakah sedikit atau banyak.

2.     Umurnya – berapa panjang usianya.

3.     Amalnya – baik atau buruk.

4.     Nasib akhirnya – celaka atau beruntung (masuk surga atau neraka).


Nasihat Para Ulama: Jangan Risau dengan Rezeki

Hadits ini menjadi nasihat penting bagi kita. Pertama, kita tidak perlu terlalu risau dengan rezeki. Sebab rezeki kita sudah ditulis oleh malaikat dengan perintah Allah .

Bagaimanapun usaha kita, kita tidak akan mendapatkan lebih dari apa yang telah ditakdirkan Allah. Dan meskipun kita merasa cemas, tidak akan mengurangi apa yang sudah Allah tetapkan.

Para ulama menjelaskan:

“Sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah sebagai rezekimu, pasti akan sampai kepadamu. Allah akan menciptakan sebab dan jalan agar rezeki itu sampai kepadamu. Sebaliknya, jika bukan rezekimu, maka sekeras apapun engkau berusaha, engkau tidak akan mendapatkannya.”

📌 Contoh: Jika Allah telah menetapkan bahwa pada hari Selasa engkau mendapat rezeki sejuta rupiah, maka Allah akan mengatur jalannya—entah lewat usaha, pertemuan, atau perantara tertentu—sehingga rezeki itu tetap sampai kepadamu.


Nasihat Kedua: Jangan Terlalu Gembira dengan Dunia

Kedua, hadits ini mengingatkan agar jangan terlalu gembira dengan rezeki atau dunia sebelum kita tahu bagaimana nasib akhir kita di akhirat.

Selama belum jelas kita termasuk ahli surga atau neraka, maka seharusnya hati kita selalu risau, selalu memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk orang-orang yang beruntung.


Amal Tidak Menjamin Akhir

Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian beramal dengan amal ahli surga, hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya sehasta. Namun ternyata takdir Allah telah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal ahli neraka, dan akhirnya masuk ke dalam neraka.
Dan sungguh, ada pula seseorang yang beramal dengan amal ahli neraka, hingga jarak dirinya dengan neraka hanya sehasta. Namun ternyata takdir Allah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal ahli surga, dan akhirnya masuk surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Kisah dalam peperangan:
Suatu ketika Rasulullah 
 bersama para sahabat berperang. Ada seorang prajurit muslim yang sangat berani, membunuh banyak orang kafir. Para sahabat kagum dan berkata kepada Rasulullah . Tetapi Nabi bersabda: “Dia termasuk penghuni neraka.”

Ternyata benar, orang itu terluka parah, tidak kuat menahan sakit, lalu bunuh diri dengan pedangnya sendiri. Ia mati sebagai penghuni neraka, meski sebelumnya beramal dengan amalan ahli surga.


Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Sebaliknya, ada orang yang sepanjang hidupnya bergelimang dosa, maksiat, minum arak, berzina, merampok, hingga jaraknya dengan neraka hanya sehasta. Namun di akhir hayatnya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, lalu mati dalam keadaan husnul khatimah. Maka Allah masukkan ia ke dalam surga.

📌 Kisah nyata:
Disebutkan dalam kitab Al-Jawāhir al-Lu’luwiyyah, ada seorang laki-laki muslim yang mencintai seorang wanita Nasrani. Karena perbedaan agama, mereka tidak bisa menikah. Si laki-laki akhirnya memilih murtad agar bisa bersama wanita itu, dan ia mati dalam keadaan kafir.

Namun wanita Nasrani tersebut justru masuk Islam di akhir hayatnya, lalu meninggal dunia dengan membawa kalimat syahadat. Maka laki-laki itu termasuk orang yang celaka, sementara wanita itu termasuk orang yang beruntung di akhirat.


Doa Rasulullah 

Dari hadits ini kita diajarkan untuk tidak merasa aman dengan amal kita sendiri. Kita harus selalu khawatir terhadap akhir hayat, dan senantiasa berdoa agar Allah meneguhkan iman, khususnya saat menghadapi sakaratul maut.

Rasulullah  sendiri sering berdoa:

“Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).


Penutup

Hadits ini memberikan pelajaran:

1.     Ruh ditiupkan pada janin saat usia 120 hari, dan sejak itu ditetapkan takdir hidupnya.

2.     Kita tidak perlu risau berlebihan tentang rezeki, sebab sudah ditetapkan Allah.

3.     Jangan terlalu gembira dengan dunia, karena nasib akhir kita di akhirat belum kita ketahui.

4.     Amal seseorang tidak menjamin akhir hidupnya; yang terpenting adalah husnul khatimah.

5.     Rahmat Allah sangat luas, maka jangan pernah berputus asa darinya.

 




Hadits Arbain Nawawi Ke-4

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan dipercaya bersabda: “Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama waktu yang sama, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama waktu yang sama. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya, dan diperintahkan (untuk mencatat) empat hal: menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh salah seorang dari kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga sehingga antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta, namun takdir mendahuluinya, sehingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu masuklah ia ke dalamnya. Dan ada seorang dari kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka sehingga antara dia dan neraka hanya tinggal satu hasta, namun takdir mendahuluinya, sehingga dia beramal dengan amalan penghuni surga lalu masuklah ia ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna Hadits

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting terkait dengan penciptaan manusia, takdir, dan kehendak Allah. Berikut penjelasan rinci mengenai kandungan hadits tersebut:

1. Tahapan Penciptaan Manusia

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa penciptaan manusia di dalam rahim ibu berlangsung dalam tiga tahap:
    • Nutfah: Selama 40 hari pertama, janin berada dalam bentuk air mani.
    • Alaqah: Selama 40 hari kedua, janin berubah menjadi segumpal darah yang menggantung di rahim.
    • Mudghah: Selama 40 hari ketiga, janin menjadi segumpal daging.
  • Setelah tahap ini, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin.

2. Penetapan Takdir

  • Setelah ruh ditiupkan, malaikat diperintahkan untuk menulis empat ketentuan bagi setiap manusia:

1.  Rezeki: Segala sesuatu yang berkaitan dengan rezeki dan kehidupan duniawi.

2.  Ajal: Batas umur atau masa hidup seseorang di dunia.

3.  Amal: Perbuatan-perbuatan yang akan dilakukan selama hidupnya.

4.  Nasib: Apakah dia akan menjadi orang yang beruntung atau celaka, masuk surga atau neraka.

3. Kehendak dan Takdir Allah

  • Hadits ini juga menjelaskan bahwa takdir Allah itu pasti terjadi, meskipun seseorang beramal seolah-olah ia pasti masuk surga atau neraka. Pada akhirnya, apa yang telah ditentukan oleh Allah yang akan menjadi kenyataan.

4. Ketetapan Akhir

  • Hadits ini memberikan peringatan agar kita tidak merasa aman dengan amal yang dilakukan, karena bisa saja di akhir hayat seseorang berubah menjadi buruk.
  • Sebaliknya, orang yang melakukan dosa jangan putus asa dari rahmat Allah, karena masih ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri hingga akhir hayat.

Dalil Al-Quran yang Berkaitan

1.  Surah Al-Mu’minun (23:12-14): Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ  ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ  ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14)

2.  Surah Al-Hadid (57:22):

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝٢٢

"Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

Contoh-Contoh Aplikasi

1.  Kesabaran dan Keikhlasan dalam Beramal:

o    Seorang Muslim harus tetap ikhlas dalam beramal tanpa merasa sombong atau takabur dengan amalannya. Harus ada keseimbangan antara rasa takut akan takdir buruk dan harapan akan rahmat Allah.

2.  Berbaik Sangka kepada Allah:

o    Meskipun seseorang melihat hidupnya penuh cobaan, ia harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan terus berusaha berbuat baik. Takdir bisa berubah karena doa, usaha, dan tawakal kepada Allah.

3.  Menghindari Putus Asa:

o    Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, meskipun merasa penuh dosa. Selama masih ada kesempatan, pintu taubat selalu terbuka, dan seseorang bisa berubah menjadi lebih baik di akhir hayatnya.

Faedah Hadits

Pembentukan manusia dalam rahim mulai dari nuthfah (setetes mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhgah (segumpal daging) masing-masing selama 40 hari.

Allah benar-benar perhatian pada manusia karena ada malaikat yang bertugas mengurus manusia ketika berada dalam janin. Ketika berada di dunia, ada malaikat yang bertugas mengawasi dan mendoakannya. Ketika akan mati, ada malaikat yang bertugas mencabut nyawanya.

Malaikat adalah hamba Allah yang diperintah dan dilarang.

Jumhur (kebanyakan ulama) menyatakan bahwa wajib berpegang dengan ketetapan yang disebutkan dalam hadits. Namun bisa terjadi perbedaan jumlah hari dalam pembentukan tadi dikarenakan ada yang terjadi di awal atau akhir hari, di awal atau di akhir malam.

Manusia mengalami tiga tahapan yaitu nuthfah, ‘alaqah lalu mudghah selama 120 hari (4 bulan). Lalu ruh ditiupkan setelah 120 hari.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa janin boleh digugurkan jika belum mencapai 120 hari karena ruh belum ditiupkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa boleh menggugurkan di bawah 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Adapun jika melewati 40 hari masa kehamilan tidaklah dibolehkan dikarenakan sudah terbentuk segumpal darah. Dalam hadits dari Abu Hudzaifah disebutkan, “Jika sudah terbentuk nuthfah setelah 42 hari, maka Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk nuthfah tersebut sehingga terbentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang.” (HR. Muslim, no. 2645). Ulama Malikiyah sendiri berpandangan bahwa kandungan tidak boleh digugurkan setelah terbentuk nuthfah (bercampurnya sel sperma dan sel telur) walau lewat satu hari. Karena ketika itu telah dimulainya kehidupan dan wajib dimuliakan. Pendapat terakhir ini yang lebih kuat, menggugurkan hanya boleh jika darurat saja karena alasan yang dibenarkan dari pakarnya.

Imam Ahmad berpendapat bahwa jika keguguran setelah 4 bulan (120 hari), maka janin dishalatkan, dikafani dan dikuburkan. Sedangkan ulama lainnya seperti Syafi’iyah berpandangan bahwa mesti menunggu sampai bayi tersebut lahir. Karena jika janin gugur dalam kandungan, maka tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dishalatkan. Namun pendapat pertama dari Imam Ahmad itulah yang lebih kuat.

Hanya Allah yang mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. Ini bukan berarti dokter tidak bisa mengetahui janin tersebut laki-laki ataukah perempuan. Namun dokter tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang ada dalam rahim sampai perihal takdirnya.

Rezeki, ajal, amal, bahagia ataukah sengsara dari setiap manusia sudah diketahui, dicatat, dikehendaki dan ditetapkan oleh Allah.

Rezeki sudah ditetapkan bukan berarti manusia tidak perlu bekerja dan berusaha. Manusia diketahui takdirnya oleh Allah, bukan berarti manusia tidak punya pilihan. Sama juga dengan jodoh sudah ditetapkan bukan berarti tidak perlu mencari jodoh lalu tunggu jodoh datang dengan sendirinya. Logikanya, kalau akan kena musibah, seseorang akan berusaha menyelamatkan diri. Begitu pula dalam hal seseorang mencuri harta orang lain, tidak boleh ia beralasan dengan takdir, “Ini sudah jadi takdir saya.” Karena orang berakal tidak mungkin beralasan seperti itu. Ia mencuri pasti karena pilihannya.

Manusia tidak mengetahui takdir yang ditetapkan untuknya. Sehingga manusia tetap harus ada usaha dan amal, tidak boleh ia hanya sekedar pasrah pada takdir.

Amalan merupakan sebab seseorang untuk masuk surga. Dalam hadits disebutkan, “Seseorang tidaklah masuk surga kecuali sebab amalnya.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816). Jadi masuk surga bukanlah karena gantian dari amal kita. Namun karena sebab amal, datang rahmat Allah yang membuat kita bisa masuk surga. Dalam ayat disebutkan pula (yang artinya), “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Bahagia ataukah sengsara tergantung dari amalan akhir seseorang itu seperti apa.

Ada orang yang beramal dengan amalan penduduk surga menurut pandangan manusia, namun akhir hidupnya adalah suul khatimah (akhir jelek). Ada juga manusia yang dianggap hina oleh orang-orang sekitarnya karena dosanya begitu banyak. Namun ia tutup hidupnya dengan taubat, sehingga ia mati husnul khatimah (mati baik) dan akhirnya masuk surga.

Untuk meraih husnul khatimah (akhir hidup yang baik) ada cara yang bisa ditempuh:

(a) Perbanyak doa siang dan malam. Di antara doa yang bisa terus dipanjatkan, ‘YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK’ (Artinya: Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu);

(b) Memperbanyak amalan ketaatan dan setiap amalan ketaatan akan mewariskan amalan ketaatan selanjutnya; ingat yang dinilai adalah akhir amal kita;

(c) Menjauhkan diri dari kemunafikan;

(d) Berusaha meninggalkan maksiat karena maksiat adalah sebab suul khatimah.

Apakah kita bahagia ataukah sengsara kelak di akhirat sudah diketahui dalam takdir.

Akhir kehidupan manusia antara syaqo’ (sengsara) ataukah sa’adah (berbahagia).

Demikian juga dalam  menjalani marifat kepada Allah itu di perlukan  tahapan  tahapan untuk musyahadah

Seperti penciptaan manusia

Hukum fiqih masalah siqtu.  Kalau bayinya sudah punya nyawa maka haram di aborsi

malaikat pembawa ruh itu meniup kan ruh

Kemudian di perintahkan lagi untuk menuliskan ya

Diantara kedua mata tentang ajal, rizki, amal

Para ulama menyimpulkan dari hadits ini : 

1. Tiada risau dengan rizki

عدم الهم للرزق

Maka rizki kita sudah ditentukan oleh Allah banyak atau sedikit.

كل ما يصل إلينا من خير ونعمة هو من رزق الله ، سواء اكتسبناه بأيدينا أو جاد به غيرنا علينا .

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْأَلَهُ فَلْيَقْبَلْهُ ؛ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ ) رواه أحمد (7908) ،

قال العلماء : ما قدر الله لك فهو يصل اليك بسبب اوجده لك وما لا يقدر لك لا يصل اليك

Rizki yang sudah Allah takdirkan kepada engkau maka pasti sampai kepada engkau, dan Allah akan  menciptakan caranya untuk mendapatkan rizki itu. (Jadi jangan perlu risau)

Telah ditetapkan bahagia dan celaka di akhirat. Dan ini menunjukkan bahwa

عدم الفرح  بالشيء ما لم يعلم انه سعيد في الأخرة

Kita jangan terlalu gembira dengan rizki yang ada kalau belum tau bahagia di akhirat.

Selama kita belum tau kita masuk neraka atau surga hendaknya kita selalu risau dengan itu. Dan selalu memohon kepada Allah agar kita dijadikan orang orang yang beruntung

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: كان على ثَقَلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ يُقالُ له كِرْكِرَةٌ، فماتَ، فقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : «هو في النَّارِ». فذهبوا ينظرونَ إليهِ، فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا  [صحيح] - [رواه البخاري]

Dari Abdullah Ibn 'Amru -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Dahulunya ada seseorang yang bekerja untuk Nabi dipanggil Kirkiroh meninggal dunia. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Dia di neraka.' Para sahabat pun pergi untuk melihat keadaannya lalu mereka dapati padanya pakaian (mantel) hasil rampasan perang yang diambilnya dengan diam-diam."  Hadis sahih - Diriwayatkan oleh Bukhari

Maka jangan sekali-kali memegang apa yang telah kita amal kan. 

Dan jangan merasa mati masuk surga.

Maka kita terus memohon kepada Allah agar di masukkan ke surga dan terbebas dari neraka

Kebalikannya orang orang yang berdosa setengah hasta lagi mati masuk neraka akhirnya dia taubat maka masuk surga

Maka jangan pernah putus asa atas rahmat dan ampunan allah

Dalam kita jawahir luluah di ceritakan ada pasangan suami istri beda agama. Suami Islam dan istri nasrani. Keduanya pindah agama ketika di akhir hayat karena ingin  bersama di akhirat. Akhirnya  Suami ke nasrani sebelum hembusan nafas terakhir dan istri  ke Islam sebelum hembusan nafas terakhir. Akhirnya istrinya masuk surga dan suaminya masuk neraka.

قالَ العُلَماءُ: ما قَدَّرَ اللهُ لَكَ فَهُوَ يَصِلُ إِلَيْكَ بِسَبَبٍ أَوْجَدَهُ لَكَ وَما لا يُقَدَّرْ لَكَ لا يَصِلُ إِلَيْكَ.

Para ulama berkata: "Apa yang Allah takdirkan untukmu, itu akan sampai kepadamu melalui sebab yang telah Dia ciptakan untukmu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu, tidak akan sampai kepadamu."

Penjelasannya adalah:

1. Takdir Allah dan Sebab-sebabnya: Apa pun yang telah Allah tetapkan untuk seseorang—baik itu rezeki, keberhasilan, atau kejadian tertentu—akan tercapai dan sampai kepada orang tersebut. Allah akan menyediakan atau menciptakan sebab-sebab yang membawa takdir itu kepada hamba-Nya.

2. Ketidakmungkinan Mendapatkan yang Bukan Takdir: Sebaliknya, jika sesuatu tidak ditakdirkan untuk seseorang, meskipun orang tersebut berusaha keras untuk mendapatkannya, hal tersebut tidak akan pernah sampai kepadanya. Sebab, segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak dan ketentuan Allah.

قالَ العُلَماءُ: عَدَمُ الفَرَحِ بِالشَّيْءِ ما لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ سَعِيدٌ في الآخِرَةِ.

Para ulama berkata: "Tidak ada kegembiraan terhadap sesuatu (di dunia) selama belum diketahui bahwa hal tersebut akan membawa kebahagiaan di akhirat."

Maksud dari kalimat ini adalah seseorang seharusnya tidak merasa terlalu senang atau bangga dengan hal-hal duniawi yang ia peroleh (seperti kekayaan, jabatan, kesuksesan, dan sebagainya), kecuali ia yakin bahwa hal tersebut juga akan memberikan manfaat dan kebahagiaan di akhirat. Ini menekankan pentingnya menilai segala sesuatu dari perspektif akhirat, bukan hanya dari sudut pandang dunia.

Contoh:

1. Kekayaan: Seorang pengusaha yang mendapatkan keuntungan besar dari usahanya tidak seharusnya terlalu bergembira hanya karena ia mendapatkan banyak uang. Ia harus memikirkan apakah kekayaannya itu akan membantunya di akhirat, misalnya dengan menyumbangkan sebagian dari hartanya kepada yang membutuhkan, membangun fasilitas umum, atau membantu pendidikan. Jika kekayaannya digunakan untuk hal-hal tersebut, barulah ia layak merasa senang, karena hartanya juga akan bermanfaat di akhirat.

2. Jabatan dan Kekuasaan: Seseorang yang mendapatkan posisi tinggi di pemerintahan atau organisasi seharusnya tidak hanya berbangga diri dengan jabatannya. Ia harus berpikir apakah dengan posisinya tersebut ia bisa berbuat adil, membantu orang banyak, dan menjalankan tugasnya dengan amanah. Jika ya, maka jabatannya bisa menjadi sarana kebahagiaan di akhirat. Namun, jika ia hanya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, maka jabatannya tidak akan memberikan kebahagiaan di akhirat.

3. Ilmu Pengetahuan: Seorang ilmuwan atau akademisi yang berhasil menemukan pengetahuan baru atau meraih gelar tinggi tidak seharusnya hanya berbangga dengan pencapaiannya. Ia harus memikirkan apakah ilmunya tersebut bermanfaat bagi masyarakat dan apakah ia menggunakannya untuk tujuan yang baik. Jika ilmunya digunakan untuk hal-hal yang positif, maka ia boleh berbahagia, karena ilmunya tersebut bisa menjadi amal jariyah yang bermanfaat di akhirat.

Intinya, kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga berdampak positif bagi kehidupan akhirat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قَالَ: شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الإِسْلَامَ: هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَلَمَّا حَضَرَ القِتَالُ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالًا شَدِيدًا فَأَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، الَّذِي قُلْتَ لَهُ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَإِنَّهُ قَدْ قَاتَلَ اليَوْمَ قِتَالًا شَدِيدًا وَقَدْ مَاتَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِلَى النَّارِ، قَالَ: فَكَادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتَابَ، فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ: لَمْ يَمُتْ، وَلَكِنْ بِهِ جِرَاحٌ شَدِيدَةٌ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ.

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Kami ikut bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Kemudian beliau berkata kepada seorang laki-laki yang mengaku Islam, "Orang ini termasuk ahli neraka." Ketika pertempuran dimulai, orang tersebut bertempur dengan sangat gagah berani hingga mengalami luka parah. Lalu ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, orang yang Anda katakan sebagai ahli neraka itu hari ini telah bertempur dengan sangat gagah berani dan dia telah meninggal dunia." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap bersabda, "Dia masuk neraka." Hampir saja sebagian orang merasa ragu (dengan sabda Rasulullah). Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, dikabarkan bahwa orang tersebut belum meninggal dunia, tetapi mengalami luka parah. Pada malam harinya, dia tidak bisa menahan rasa sakit dari luka-lukanya, lalu dia bunuh diri.

 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَ فِيمَا كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ، فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ، فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ، وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ، فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ، فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dahulu di kalangan umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian dia bertanya tentang siapa orang yang paling berilmu di bumi. Lalu dia ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta). Dia mendatanginya dan berkata, 'Saya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Apakah saya masih bisa bertaubat?' Rahib itu menjawab, 'Tidak.' Maka laki-laki itu membunuh rahib tersebut sehingga genaplah seratus orang yang dia bunuh.

Kemudian dia bertanya lagi tentang siapa orang yang paling berilmu di bumi. Lalu dia ditunjukkan kepada seorang alim (ahli ilmu). Laki-laki itu berkata, 'Saya telah membunuh seratus orang. Apakah saya masih bisa bertaubat?' Ahli ilmu itu menjawab, 'Ya, dan siapa yang dapat menghalanginya dari taubat? Pergilah ke tempat ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama mereka, dan jangan kembali ke tempatmu, karena tempatmu adalah tempat yang buruk.'

Laki-laki itu pun pergi, hingga ketika dia telah menempuh setengah perjalanan, maut menjemputnya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih mengenai dirinya. Malaikat rahmat berkata, 'Dia datang dalam keadaan bertaubat dengan hatinya yang menghadap kepada Allah.' Sedangkan malaikat azab berkata, 'Dia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.'

Kemudian datanglah seorang malaikat dalam bentuk manusia. Mereka menjadikannya sebagai penengah. Dia berkata, 'Ukurlah jarak antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat, maka dia miliknya.' Mereka pun mengukur dan mendapati bahwa laki-laki itu lebih dekat ke tempat yang ditujunya. Maka dia diambil oleh malaikat rahmat." (HR. Bukhari dan Muslim)

 "كُلُّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ"

"Setiap orang dimudahkan untuk apa yang dia diciptakan baginya."

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tujuan hidup dan jalan yang telah ditentukan oleh Allah untuk mereka. Makna dari hadits ini bisa diuraikan sebagai berikut:

 Surah Al-Lail ayat 5-10:

وَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar."

Perbedaan Takdir Menurut Golongan-Golongan Islam

  1. Golongan Jabariyah
    Pandangan:
    Jabariyah meyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah. Manusia seperti wayang yang digerakkan oleh dalang.

    Dalil yang digunakan:

    وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
    (QS. As-Saffat: 96)
    Artinya: "Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."

    Contoh:
    Seseorang berbuat maksiat lalu berkata bahwa itu adalah kehendak Allah, seolah-olah ia tidak memiliki tanggung jawab atas perbuatannya.

  2. Golongan Qadariyah
    Pandangan:
    Qadariyah meyakini bahwa manusia memiliki kehendak bebas penuh dan Allah tidak campur tangan dalam perbuatan manusia.

    Dalil yang digunakan:

    إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
    (QS. Al-Insan: 3)
    Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menunjukkannya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur."

    Contoh:
    Manusia bertanggung jawab penuh atas amal perbuatannya dan tidak boleh menyalahkan takdir.

  3. Golongan Mu'tazilah
    Pandangan:
    Mu'tazilah memiliki pandangan tengah: Allah menciptakan manusia dan memberikan kemampuan, namun manusia bebas dalam menentukan perbuatannya.

    Dalil yang digunakan:

    مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا
    (QS. Fussilat: 46)
    Artinya: "Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahala) itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka itu akan menimpa dirinya sendiri."

    Contoh:
    Manusia memiliki kemampuan untuk memilih jalan hidupnya, baik atau buruk.

  4. Ahli Sunnah Wal Jama'ah
    Pandangan:
    Ahli Sunnah meyakini bahwa manusia memiliki kehendak tetapi tetap dalam batasan takdir Allah. Kehendak manusia terjadi dalam kekuasaan dan ilmu Allah.

    Dalil yang digunakan:

    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
    (QS. Al-Insan: 30)
    Artinya: "Dan kamu tidak dapat menghendaki (suatu perkara), kecuali apabila Allah menghendakinya."

    Contoh:
    Manusia berusaha dan bertawakal, namun hasil akhirnya adalah ketentuan Allah.


Konsep "Al-Kasb" Menurut Ahli Sunnah

Pengertian:
"Al-Kasb" berarti usaha atau perolehan. Menurut Imam Al-Asy’ari, manusia memiliki kemampuan untuk berusaha, namun keberhasilan usaha tersebut bergantung pada kehendak Allah. Manusia adalah pelaku yang berusaha, sementara pencipta hasilnya adalah Allah.

Dalil yang digunakan:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
(QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya: "Baginya (manusia) apa yang diusahakannya, dan atasnya (manusia) pula apa yang diperbuatnya."

Contoh:
Seseorang yang bekerja keras untuk mendapatkan rezeki tetap harus menyadari bahwa hasil akhirnya ditentukan oleh Allah, meskipun usaha manusia sangat dihargai dalam pandangan Islam.

Dalil dari Al-Qur'an:

  1. QS. An-Najm: 39-41

    وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ۝ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ
    Artinya: "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna."

  2. QS. Al-Jumu'ah: 10

    فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    Artinya: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."

  3. QS. Al-Baqarah: 286

    لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
    Artinya: "Baginya (manusia) pahala dari apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksa dari apa yang dikerjakannya (yang buruk)."


Dalil dari Hadis:

  1. Hadis Riwayat Bukhari

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.
    Artinya: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada makanan yang lebih baik yang dimakan seseorang daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud ‘alaihis-salam makan dari hasil kerja tangannya.'"

  2. Hadis Riwayat Muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ.
    Artinya: "Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.'"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3