HADITS 38
Hadits ke-38: Tentang Wali Allah dan Kedekatan Hamba kepada-Nya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.”
(HR. Bukhari)
1. Pengertian Wali Allah
- Wali Allah adalah hamba yang dikasihi dan dicintai oleh Allah ﷻ.
- Seorang disebut wali bukan sembarang orang, tetapi ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi.
- Barangsiapa yang menyakiti wali Allah, berarti ia menyakiti Allah. Membenci wali sama dengan membenci Allah. Dan siapa yang memusuhi wali Allah, Allah sendiri yang akan memeranginya. Tentu, tidak ada yang dapat menang melawan Allah.
2. Syarat Menjadi Wali
Para ulama menyebutkan syarat seorang wali:
- Berilmu (‘alim).
Allah tidak menjadikan orang jahil sebagai wali. Maka seorang wali pasti memiliki ilmu agama.
3. Rukun Wali Allah
Rukun seorang wali ada dua:
(a) Zahirnya tunduk kepada syariat
- Menjalankan shalat, puasa, zakat, dan seluruh ibadah.
- Menjauhi yang haram, melaksanakan yang wajib, berzikir, bershalawat, serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
- Orang yang masih terus melakukan maksiat dan melanggar syariat, belum bisa masuk golongan wali Allah.
(b) Batinya bercahaya dengan nur hakikat
- Hatinya gembira dengan ketaatan kepada Allah, bukan dengan urusan duniawi.
- Senang dan jinak dengan zikir kepada Allah.
- Tidak bergantung kecuali hanya kepada Allah.
Jika seseorang zahirnya tunduk pada syariat dan batinnya dipenuhi cahaya hakikat, maka ia adalah waliyullah.
4. Kedudukan Orang Awam
Bila kita belum sampai menjadi wali, jangan berkecil hati. Masih ada jalan kemuliaan, yaitu dengan mencintai para wali. Mencintai mereka dan dicintai oleh mereka, insyaAllah mengantarkan kita kepada keselamatan.
5. Cara Mendekatkan Diri kepada Allah
Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan kewajiban yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
(HR. Bukhari)
Urutannya:
- Dahulukan ibadah wajib (shalat, zakat, puasa, haji). Jangan sampai lalai.
- Setelah kewajiban terpenuhi, perbanyak amalan sunnah.
- Jika seorang hamba konsisten melakukannya, Allah akan mencintainya.
6. Tanda Allah Mencintai Hamba
Jika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjaga seluruh anggota tubuhnya:
- Pendengarannya tidak mendengar yang haram.
- Penglihatannya tidak melihat yang dilarang.
- Tangannya tidak meraih yang diharamkan.
- Kakinya tidak melangkah ke arah maksiat.
Namun, perlu dipahami: para nabi itu ma’shum (terjaga dari dosa sama sekali). Sedangkan para wali mahfudz, artinya bisa saja tergelincir, tetapi Allah segera menjaganya untuk cepat kembali bertobat.
7. Doa Para Wali
Allah juga berfirman dalam hadits Qudsi:
“Seandainya wali-Ku memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
Namun, makna “dikabulkan” itu bisa dalam lima bentuk:
- Dikabulkan sesuai permintaan.
- Ditunda karena ada hikmah yang Allah tahu.
- Diganti dengan yang lebih baik.
- Dipalingkan dari musibah yang setara dengan permintaannya.
- Disimpan pahalanya di akhirat.
Menurut para ulama, yang terbaik adalah jika Allah menyimpannya sebagai pahala besar di akhirat.
8. Adab dan Rukun Doa
Agar doa dikabulkan, ada syarat dan adabnya:
- Hudhur al-qalb: menghadirkan hati bersama Allah saat berdoa.
- Raja’: penuh harap akan dikabulkan Allah, tidak pesimis.
- Doa memiliki “sayap”: (1) permintaan yang benar, (2) rezeki halal.
- Waktu mustajab: misalnya sahur, atau saat hati kosong dari selain Allah.
- Disertai shalawat atas Nabi ﷺ sebelum dan sesudah doa.
Penutup
Hadits ini memberi pelajaran bahwa kedekatan dengan Allah bukan hanya dengan ibadah sunnah, tetapi dimulai dari menunaikan kewajiban. Jika kewajiban sudah sempurna, lalu ditambah sunnah, Allah akan mencintai kita. Dan orang yang dicintai Allah, hidupnya selalu dalam penjagaan-Nya.
**Ceramah Hadits ke-38: Tentang Wali Allah dan Kedekatan Hamba kepada-Nya**
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
> **مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ**
> “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.”
> (HR. Bukhari)
### 1. Pengertian Wali Allah
* **Wali Allah** adalah hamba yang dikasihi dan dicintai oleh Allah ﷻ.
* Seorang disebut wali bukan sembarang orang, tetapi ada **syarat dan rukun** yang harus dipenuhi.
* Barangsiapa yang menyakiti wali Allah, berarti ia menyakiti Allah. Membenci wali sama dengan membenci Allah. Dan siapa yang memusuhi wali Allah, Allah sendiri yang akan memeranginya. Tentu, tidak ada yang dapat menang melawan Allah.
### 2. Syarat Menjadi Wali
Para ulama menyebutkan syarat seorang wali:
* **Berilmu (‘alim).**
Allah tidak menjadikan orang jahil sebagai wali. Maka seorang wali pasti memiliki ilmu agama.
### 3. Rukun Wali Allah
Rukun seorang wali ada dua:
**(a) Zahirnya tunduk kepada syariat**
* Menjalankan shalat, puasa, zakat, dan seluruh ibadah.
* Menjauhi yang haram, melaksanakan yang wajib, berzikir, bershalawat, serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
* Orang yang masih terus melakukan maksiat dan melanggar syariat, belum bisa masuk golongan wali Allah.
**(b) Batinya bercahaya dengan nur hakikat**
* Hatinya gembira dengan ketaatan kepada Allah, bukan dengan urusan duniawi.
* Senang dan jinak dengan zikir kepada Allah.
* Tidak bergantung kecuali hanya kepada Allah.
Jika seseorang zahirnya tunduk pada syariat dan batinnya dipenuhi cahaya hakikat, maka ia adalah waliyullah.
### 4. Kedudukan Orang Awam
Bila kita belum sampai menjadi wali, jangan berkecil hati. Masih ada jalan kemuliaan, yaitu dengan **mencintai para wali**. Mencintai mereka dan dicintai oleh mereka, insyaAllah mengantarkan kita kepada keselamatan.
### 5. Cara Mendekatkan Diri kepada Allah
Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
> **وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ**
> “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan kewajiban yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
> (HR. Bukhari)
**Urutannya:**
1. Dahulukan **ibadah wajib** (shalat, zakat, puasa, haji). Jangan sampai lalai.
2. Setelah kewajiban terpenuhi, perbanyak amalan sunnah.
3. Jika seorang hamba konsisten melakukannya, Allah akan mencintainya.
### 6. Tanda Allah Mencintai Hamba
Jika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjaga seluruh anggota tubuhnya:
* Pendengarannya tidak mendengar yang haram.
* Penglihatannya tidak melihat yang dilarang.
* Tangannya tidak meraih yang diharamkan.
* Kakinya tidak melangkah ke arah maksiat.
Namun, perlu dipahami: para nabi itu **ma’shum** (terjaga dari dosa sama sekali). Sedangkan para wali **mahfudz**, artinya bisa saja tergelincir, tetapi Allah segera menjaganya untuk cepat kembali bertobat.
### 7. Doa Para Wali
Allah juga berfirman dalam hadits Qudsi:
> “Seandainya wali-Ku memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
Namun, makna “dikabulkan” itu bisa dalam lima bentuk:
1. Dikabulkan sesuai permintaan.
2. Ditunda karena ada hikmah yang Allah tahu.
3. Diganti dengan yang lebih baik.
4. Dipalingkan dari musibah yang setara dengan permintaannya.
5. Disimpan pahalanya di akhirat.
Menurut para ulama, yang terbaik adalah jika Allah menyimpannya sebagai pahala besar di akhirat.
### 8. Adab dan Rukun Doa
Agar doa dikabulkan, ada syarat dan adabnya:
* **Hudhur al-qalb**: menghadirkan hati bersama Allah saat berdoa.
* **Raja’**: penuh harap akan dikabulkan Allah, tidak pesimis.
* Doa memiliki “sayap”: (1) permintaan yang benar, (2) rezeki halal.
* Waktu mustajab: misalnya sahur, atau saat hati kosong dari selain Allah.
* Disertai shalawat atas Nabi ﷺ sebelum dan sesudah doa.
Komentar
Posting Komentar