HADITS 20

 

Hadits ke-20 dari Al-Arba‘in An-Nawawiyyah

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat yang mulia:

Abu Mas'ud al-Ansari, bernama lengkap Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallāhu ‘anhu.

Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

*“Sesungguhnya di antara perkataan kenabian yang terdahulu yang masih didapati manusia adalah:
‘Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.’”

(HR. Muhammad al-Bukhari)

Hadits ini singkat, namun maknanya sangat dalam. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk kaidah besar dalam akhlak Islam.


🌿 Makna Sabda Nabi ﷺ

Kalimat:

“Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.”

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini memiliki dua makna.


✨ Makna Pertama: Bentuk Ancaman (Tahdīd)

Maksudnya adalah:

Jika engkau sudah tidak memiliki rasa malu, maka silakan lakukan apa saja — tetapi bersiaplah menerima akibatnya.

Ini bukan izin untuk berbuat bebas, tetapi ancaman keras.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah berfirman dengan ungkapan ancaman:

“Berbuatlah sesukamu…”
(yang maksudnya adalah peringatan akan akibat buruk)

Artinya, orang yang kehilangan rasa malu akan mudah terjerumus dalam dosa tanpa rasa takut.


✨ Makna Kedua: Gambaran Realita

Maksudnya:

Orang yang tidak punya rasa malu akan berani melakukan apa saja yang ia kehendaki.

Karena rasa malu adalah rem dalam kehidupan. Jika rem itu hilang, maka seseorang akan melaju tanpa kendali.


🌺 Hakikat Malu (Al-Ḥayā’)

Para ulama menjelaskan bahwa malu terbagi menjadi dua:

1️⃣ Malu yang Tercela

Yaitu malu yang menghalangi seseorang dari berbuat kebaikan.

Contohnya:

  • Malu bertanya tentang ilmu agama.

  • Malu belajar.

  • Malu hadir ke majelis ilmu.

  • Malu menegakkan amar ma‘ruf nahi munkar.

  • Malu shalat berjamaah di masjid.

Ini bukan malu yang terpuji, tetapi kelemahan jiwa.

Contoh yang sangat indah adalah kisah sahabat wanita Anshar:

Umm Sulaym pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, apakah wanita wajib mandi jika ia bermimpi?”

Pertanyaan ini terasa sensitif, tetapi beliau bertanya demi memahami hukum agama.

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Ya, jika ia melihat air (mani).”

Ketika itu, Aisha bint Abi Bakr berkata:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama.”

Ini menunjukkan bahwa malu yang menghalangi ilmu adalah malu tercela.


2️⃣ Malu yang Terpuji

Inilah malu yang dimaksud dalam hadits.

Yaitu:

Sifat yang mendorong seseorang meninggalkan keburukan dan melakukan kebaikan.

Malu yang terpuji:

  • Malu berbuat maksiat.

  • Malu meninggalkan shalat.

  • Malu mengingkari janji.

  • Malu berkhianat.

  • Malu membuka aurat.

  • Malu berdusta.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Al-ḥayā’ syu‘batun minal īmān.”
“Malu adalah cabang dari iman.”

Artinya, semakin kuat rasa malu seseorang, semakin kuat pula imannya.


🌟 Teladan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling pemalu dalam kebaikan.

Dalam hadits disebutkan bahwa beliau:

“Lebih pemalu daripada seorang gadis perawan dalam pingitannya.”

Namun, malu beliau tidak menghalangi kebenaran. Beliau tetap tegas dalam menyampaikan wahyu.

Beliau sangat menjaga aurat dan kehormatan diri.


🌸 Malu kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu.”

Bagaimana cara malu kepada Allah?

Para ulama menjelaskan:

1️⃣ Menyadari bahwa Allah selalu melihat kita.
2️⃣ Menyadari bahwa Allah mengetahui isi hati kita.
3️⃣ Mengingat betapa banyak nikmat Allah, sementara kita sedikit bersyukur.

Jika seseorang sadar:

  • Allah melihatnya saat ia sendirian,

  • Allah mengetahui apa yang ia sembunyikan,

maka ia akan malu berbuat dosa walau tidak ada manusia.


🌙 Dampak Hilangnya Rasa Malu

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa jika Allah menghendaki kebinasaan seseorang, maka pertama kali yang dicabut darinya adalah rasa malu.

Ketika malu hilang:

  • Ia tidak malu bermaksiat terang-terangan.

  • Ia tidak malu berdusta.

  • Ia tidak malu berkhianat.

  • Ia tidak malu membuka aurat.

  • Ia tidak malu meninggalkan shalat.

Lalu setelah itu:

  • Dicabut amanahnya.

  • Dicabut kasih sayangnya.

  • Dicabut imannya.

Akhirnya ia menjadi pribadi yang keras dan jauh dari Allah.


🛡️ Malu sebagai Benteng Kehormatan

Rasa malu menjaga:

  • Kehormatan diri

  • Harga diri

  • Nama baik

  • Martabat keluarga

Orang yang membuang rasa malu akan mudah menjadi bahan gunjingan.

Sebaliknya, orang yang menjaga rasa malu akan dijaga kehormatannya oleh Allah.


💎 Penutup

Hadits ke-20 ini mengajarkan bahwa:

✔ Malu adalah cabang iman
✔ Malu adalah benteng akhlak
✔ Malu adalah penghalang dosa
✔ Malu adalah tanda hidupnya hati

Jika seseorang kehilangan rasa malu, maka ia akan mudah melakukan apa saja tanpa takut dosa.

Karena itu, hendaknya kita memohon kepada Allah agar ditanamkan dalam diri kita rasa malu yang terpuji — malu yang mendorong kita kepada ketaatan dan menjauhkan dari kemaksiatan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki sifat ḥayā’ yang tinggi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3