HADITS 17
Hadits ke-17 dari Arba’in An-Nawawi
Hadits ini diriwayatkan oleh Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ،
فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ،
وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ،
وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ،
وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah mewajibkan (menetapkan) ihsan atas segala sesuatu.
Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.
Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.
Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya.”(HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
Makna Umum Hadits
Rasulullah ﷺ menyampaikan kaidah besar dalam kehidupan:
“Innallāha katabal-ihsāna ‘alā kulli syai’.”
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan atas segala sesuatu.”
Artinya, dalam setiap aspek kehidupan — ibadah, muamalah, hubungan sosial, bahkan dalam hal menghukum atau menyembelih — kita diperintahkan untuk berlaku ihsan.
Apa Itu Ihsan?
Para ulama menjelaskan:
Ihsan adalah berbuat baik sesuai tuntunan syariat, bukan sekadar menurut perasaan atau adat.
Kadang sesuatu menurut adat terlihat baik, tetapi menurut agama belum tentu benar.
Kadang menurut perasaan kita terasa baik, tetapi menurut syariat tidak tepat.
Maka ukuran ihsan bukan:
-
Perasaan,
-
Kebiasaan masyarakat,
-
Atau selera pribadi,
Tetapi apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
“Atas Segala Sesuatu” – Maknanya Sangat Luas
Kalimat “‘alā kulli syai’” (atas segala sesuatu) mencakup seluruh aspek kehidupan. Para ulama membaginya menjadi beberapa bentuk utama:
1️⃣ Ihsan kepada Diri Sendiri
Ini yang paling utama.
Bagaimana bentuknya?
✔ Mendorong diri untuk taat
Apa yang Allah perintahkan, kita paksa diri untuk melakukannya.
✔ Menjauhkan diri dari maksiat
Apa yang Allah larang, kita tahan diri darinya.
Orang yang melalaikan perintah Allah sebenarnya sedang mencelakakan dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang yang taat sedang berbuat ihsan kepada dirinya.
⚠ Jangan Selalu Menuruti Nafsu
Dalam hal ini, para ulama seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa nafsu bisa:
-
Mengajak kepada maksiat
-
Mengajak kepada riya’
-
Bahkan mengajak kepada ibadah yang tidak utama
Contoh:
Seseorang punya hutang shalat bertahun-tahun (shalat wajib yang ditinggalkan).
Yang paling utama baginya adalah mengqadha shalat wajib tersebut.
Tetapi ia justru sibuk:
-
Shalat sunnah banyak,
-
Umrah berkali-kali,
-
Ziarah ke berbagai tempat,
Sementara kewajiban yang lebih utama ditinggalkan.
Ini tanda ibadahnya didorong oleh nafsu, bukan karena Allah.
Ibadah karena Allah akan mencari yang paling utama (afdhal).
Ibadah karena nafsu mencari yang paling disukai diri.
Contoh Nyata
Tetangga kita sakit, perlu biaya operasi besar.
Membantu orang yang sangat membutuhkan pahalanya sangat besar.
Tetapi hati kita terasa berat mengeluarkan uang untuk membantu.
Sebaliknya, untuk perjalanan wisata religi yang tidak wajib, kita mudah mengeluarkan biaya besar.
Ini menunjukkan bahwa terkadang nafsu lebih dominan daripada keikhlasan.
Maka ihsan kepada diri sendiri berarti:
-
Mengutamakan kewajiban
-
Mendahulukan yang paling besar manfaat dan pahalanya
-
Tidak mengikuti dorongan hawa nafsu
2️⃣ Ihsan kepada Sesama Manusia
Terutama kepada kaum muslimin.
Bentuknya:
✔ Berniat baik kepada semua orang
Tidak ingin orang lain celaka
Tidak ingin orang lain sengsara
Tidak ingin orang lain rugi
✔ Mendoakan kaum muslimin
Memohonkan ampunan untuk yang hidup dan yang telah wafat.
✔ Membantu yang membutuhkan
Baik dengan harta, tenaga, nasihat, maupun doa.
3️⃣ Ihsan dalam Penegakan Hukum
Hadits ini secara khusus menyebut:
“Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.”
Artinya:
Jika hukuman mati memang dibenarkan oleh syariat (seperti dalam qishash), maka harus dilakukan dengan cara paling cepat dan paling sedikit menyakitkan.
Islam bahkan mengatur detail agar:
-
Tidak menyiksa,
-
Tidak memperpanjang penderitaan,
-
Tidak menyakiti berlebihan.
4️⃣ Ihsan dalam Menyembelih Hewan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.”
Caranya:
✔ Menajamkan pisau
✔ Tidak menajamkan di depan hewan
✔ Tidak menyembelih di hadapan hewan lain
✔ Tidak menyiksa sebelum disembelih
✔ Mempercepat proses agar tidak menyakitkan
Bahkan dalam urusan hewan pun Islam mengajarkan kasih sayang.
Keutamaan Orang yang Berbuat Ihsan
Orang yang melakukan ihsan disebut muhsin (laki-laki) dan muhsinah (perempuan).
Al-Qur’an penuh dengan pujian bagi mereka.
📖 “Innallāha yuḥibbul muḥsinīn”
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
Jika Allah mencintai seseorang:
-
Dosanya diampuni,
-
Ibadahnya diterima,
-
Hidupnya diberkahi.
📖 “Inna raḥmatallāhi qarībun minal muḥsinīn”
“Rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.”
Rahmat Allah mengelilingi mereka.
📖 “Innallāha ma‘al muḥsinīn”
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”
Jika Allah bersama seseorang, ia tidak akan dibiarkan dalam kesulitan.
📖 “Innallāha lā yuḍī‘u ajral muḥsinīn”
“Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.”
Sekecil apa pun kebaikan, tidak akan hilang di sisi Allah.
Penutup
Hadits ke-17 ini adalah kaidah besar kehidupan:
✔ Ihsan kepada diri sendiri
✔ Ihsan kepada manusia
✔ Ihsan dalam ibadah
✔ Ihsan dalam muamalah
✔ Bahkan ihsan dalam menghukum dan menyembelih
Intinya:
Jadilah orang yang selalu berbuat baik sesuai tuntunan syariat dalam segala keadaan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan muhsinin, orang-orang yang dicintai, dirahmati, dan disertai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Komentar
Posting Komentar