HADITS 16

 

Hadits ke-16 dari Arba’in An-Nawawi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: أَوْصِنِي.
قَالَ: لَا تَغْضَبْ.
فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:
“Berilah aku wasiat.”
Beliau bersabda: “Jangan marah.”
Laki-laki itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan beliau tetap bersabda: “Jangan marah.”

(HR. Muhammad al-Bukhari)


Pendahuluan

Hadits ini sangat singkat, namun kandungannya sangat dalam. Seorang sahabat meminta satu wasiat yang ringkas, tetapi mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan banyak amalan, tidak menyebutkan shalat, puasa, atau sedekah secara khusus. Beliau hanya mengatakan:

“Lā taghdhab” – Jangan marah.

Mengapa demikian?

Karena marah adalah pintu berbagai keburukan. Jika seseorang mampu mengendalikan marah, maka ia telah menutup banyak pintu dosa.


Apa Itu Marah?

Para ulama mendefinisikan marah sebagai:

Mendidihnya darah di dalam hati karena datangnya sesuatu yang tidak disukai, disertai keinginan untuk melampiaskannya.

Marah muncul ketika:

  • Keinginan tidak terpenuhi

  • Harga diri tersinggung

  • Kehormatan terganggu

  • Hak dirampas

  • Kezaliman terjadi

Marah adalah fitrah manusia. Namun yang diperintahkan adalah mengendalikan, bukan menghilangkan sepenuhnya.


Mengapa Nabi Mengulang “Jangan Marah”?

Laki-laki itu berkali-kali meminta wasiat. Tetapi Nabi ﷺ tetap menjawab dengan kalimat yang sama.

Ini menunjukkan:

  1. Marah adalah sumber banyak dosa.

  2. Mengendalikan marah adalah inti akhlak.

  3. Orang yang bisa mengendalikan marah berarti telah menguasai dirinya.


Bahaya Marah

Banyak ulama menjelaskan betapa berbahayanya marah.

1️⃣ Merusak Iman

Dikatakan bahwa marah merusak iman seperti cuka merusak madu.
Madu itu manis, tetapi jika dicampur cuka, rusaklah rasanya.

Begitu pula iman. Jika dikuasai marah, rusaklah ketenangan dan kesempurnaannya.


2️⃣ Marah adalah Kunci Kejahatan

Disebutkan oleh para ulama, di antaranya dinisbatkan kepada keluarga ilmu seperti Ja'far al-Sadiq dan juga dijelaskan oleh Al-Ghazali bahwa:

Marah adalah kunci segala keburukan.

Karena ketika marah:

  • Orang bisa mencaci maki

  • Orang bisa memukul

  • Orang bisa melukai

  • Orang bisa membunuh

  • Orang bisa merusak hubungan

  • Orang bisa memutus silaturahmi


Pengaruh Marah pada Tubuh dan Jiwa

1️⃣ Pada Fisik

  • Wajah berubah merah atau pucat

  • Nafas memburu

  • Tangan gemetar

  • Suara meninggi

  • Gerakan menjadi kasar

2️⃣ Pada Lisan

  • Muncul cacian

  • Kata-kata kasar

  • Ucapan yang menyakitkan

  • Sumpah serapah

3️⃣ Pada Perbuatan

  • Melempar barang

  • Memukul

  • Merusak benda

  • Bahkan tindakan kriminal

4️⃣ Pada Hati

  • Timbul dendam

  • Hasad

  • Kebencian

  • Senang melihat orang lain susah

Semua ini adalah akhlak tercela.


Hukum Mengendalikan Marah

Setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, wajib berusaha mengendalikan marah.

Karena jika dibiarkan, marah akan membawa kepada:

  • Dosa

  • Penyesalan

  • Putusnya hubungan

  • Permusuhan berkepanjangan


Cara Mengobati Marah

Para ulama menyebutkan bahwa pengobatan marah ada dua jenis:

A. Dengan Ilmu (Pemahaman)

1️⃣ Mengingat Keutamaan Menahan Marah

Allah memuji orang yang menahan marah dalam Al-Qur’an:

“Dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia…” (QS. Ali Imran: 134)

Orang yang mampu menahan marah akan mendapatkan pahala besar.


2️⃣ Mengingat Ancaman Allah

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa orang yang melampiaskan marah dengan maksiat akan mendapat siksa.

Maka ketika marah, ingatlah:

Apakah kemarahan ini layak ditukar dengan murka Allah?


3️⃣ Memikirkan Akibat Permusuhan

Marah yang dilampiaskan bisa:

  • Memutus keluarga

  • Merusak persahabatan

  • Menghancurkan rumah tangga

  • Menimbulkan dendam turun-temurun


4️⃣ Merenungkan Buruknya Wajah Saat Marah

Orang yang marah wajahnya berubah, tidak indah dipandang.
Syaitan sangat senang melihat manusia marah.


5️⃣ Menyadari Bahwa Itu Takdir Allah

Apa yang membuat kita marah terjadi dengan izin Allah.
Jika kita marah secara berlebihan, berarti kita tidak ridha dengan takdir-Nya.


6️⃣ Menyadari Bahwa Balas Dendam Tidak Selalu Lebih Baik dari Memaafkan

Memaafkan lebih mulia daripada membalas.


B. Dengan Amalan (Praktik Langsung)

Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa langkah praktis:

1️⃣ Membaca Ta’awudz

A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm

Karena marah berasal dari syaitan.


2️⃣ Mengubah Posisi

Jika marah dalam keadaan berdiri → duduk.
Jika masih marah → berbaring.

Semakin dekat ke tanah, semakin reda kemarahan.


3️⃣ Berwudhu

Marah berasal dari api.
Api dipadamkan dengan air.

Wudhu membantu meredakan emosi.


Jenis-Jenis Marah

Menurut para ulama seperti Al-Ghazali, marah terbagi menjadi tiga:

1️⃣ Marah yang Lemah (Tafrith) – Tercela

Orang yang hampir tidak pernah marah, bahkan ketika kehormatan agama diinjak.
Ini menunjukkan kelemahan.


2️⃣ Marah Berlebihan (Ifrath) – Tercela

Marah melampaui batas:

  • Karena hal kecil

  • Tanpa kendali

  • Meledak-ledak

Ini yang dilarang.


3️⃣ Marah yang Seimbang – Terpuji

Marah yang:

  • Dikendalikan akal dan agama

  • Muncul karena membela kebenaran

  • Tidak karena ego pribadi


Marah yang Terpuji

Rasulullah ﷺ tidak pernah marah karena urusan pribadi.
Beliau marah ketika:

  • Hukum Allah diremehkan

  • Kemungkaran dilakukan terang-terangan

  • Kebenaran diinjak

Marah seperti ini disebut marah karena Allah (ghadhab fillāh).

Jika kita marah karena kehormatan agama dilanggar, dan bukan karena ego pribadi, maka itu terpuji.


Kesimpulan Besar Hadits

Mengapa Nabi hanya berkata: “Jangan marah”?

Karena:

✔ Marah membuka pintu dosa
✔ Marah merusak iman
✔ Marah menghancurkan hubungan
✔ Marah menimbulkan penyesalan

Tetapi marah yang terkontrol karena Allah adalah akhlak terpuji.


Penutup

Hadits ke-16 ini mengajarkan bahwa pengendalian diri adalah inti kesempurnaan iman.

Orang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian.
Orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.

Semoga Allah memberi kita hati yang tenang, jiwa yang lembut, dan kemampuan menahan amarah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3