HADITS 13

 

Penjelasan Hadits ke-13 dari 40 Hadits Nawawi

Hadits (Arab)

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
(رواه البخاري ومسلم)

Terjemahan

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Makna Umum Hadits

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terlihat dari sikapnya kepada orang lain.

Jika kita:

  • Ingin sehat → kita juga harus ingin saudara kita sehat

  • Ingin taat kepada Allah → kita juga harus ingin saudara kita taat

  • Ingin diampuni dosanya → kita juga harus ingin saudara kita diampuni

  • Ingin sukses dan bahagia → kita juga harus ingin saudara kita sukses dan bahagia

Inilah ukuran iman yang benar dalam Islam.

4. Penjelasan Tambahan dari Hadits Lain

Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ

Artinya:
“Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sampai ia mencintai untuk manusia kebaikan sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri.”

5. Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Jika kita tidak suka disakiti, maka jangan menyakiti orang lain

  • Jika kita tidak suka dihina atau dibully, maka jangan menghina dan membully orang lain

  • Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain

Inilah akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

6. Akhlak Buruk yang Dihindarkan oleh Hadits Ini

A. Dengki (Hasad)

Hasad adalah membenci nikmat yang ada pada orang lain.

Para ulama menjelaskan, hasad ada dua bentuk, dan keduanya haram:

1. Hasad Tingkat Pertama

Seseorang ingin nikmat orang lain hilang, walaupun nikmat itu tidak berpindah kepadanya.
Contoh:

  • Ingin orang lain jatuh dari jabatannya

  • Ingin orang kaya menjadi miskin

  • Tidak suka melihat orang lain sukses

2. Hasad Tingkat Kedua

Seseorang ingin nikmat orang lain hilang agar berpindah kepadanya.
Contoh:

  • Ingin orang lain kehilangan jabatan supaya ia yang menggantikannya

  • Tidak suka orang lain memiliki sesuatu karena ia ingin memilikinya sendiri

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya:
“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Artinya, dengki bisa menghapus pahala amal dan ibadah.

B. Menghendaki Kejahatan untuk Orang Lain

Sifat ini disebut mengharapkan keburukan, kehancuran, atau kegagalan pada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menghendaki kejahatan atas kami, maka ia bukan dari golongan kami.”

Contohnya:

  • Senang jika orang lain rugi

  • Senang jika orang lain jatuh

  • Sedih jika orang lain sukses

Semua ini bertentangan dengan hadits ke-13.

7. Catatan Penting

Jika kita melihat kemungkaran (misalnya perjudian atau perzinahan), lalu kita melaporkan kepada pihak berwenang dengan niat mencegah kemungkaran, maka itu berpahala.

Namun jika niatnya untuk:

  • Mempermalukan

  • Menjatuhkan

  • Membuat orang lain hancur

Maka itu termasuk menghendaki keburukan, dan ini dilarang.

Lanjutan Penjelasan Hadits ke-13

Akhlak yang Dijauhkan oleh Hadits “Mencintai untuk Saudaramu Apa yang Kamu Cintai untuk Dirimu”

1. Dijauhkan dari Sifat Khianat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Ayat Al-Qur’an

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(QS. Ali ‘Imran: 161)

Artinya:
“Barang siapa berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.”

Makna Khianat

Khianat adalah tidak amanah dan mengambil hak orang lain secara tidak benar.

Contoh Khianat dalam Kehidupan:

  • Anak dititipi uang oleh orang tua, lalu mengambil atau menggantinya dengan yang lain

  • Suami atau istri tidak setia dan mencintai orang lain selain pasangannya

  • Mengambil harta umum atau uang negara (korupsi)

  • Mencuri atau mengambil barang yang bukan haknya

Semua ini bertentangan dengan hadits ke-13, karena orang yang mencintai kebaikan untuk saudaranya tidak mungkin menyakiti dan merugikan orang lain.

2. Dijauhkan dari Sifat Dendam

Makna Dendam

Dendam adalah menyimpan kebencian dalam hati dan tidak mau memaafkan, meskipun orang lain sudah meminta maaf.

Tanda orang pendendam:

  • Hatinya selalu panas ketika melihat orang tertentu

  • Selalu mengingat kesalahan masa lalu

  • Tidak ingin melihat orang itu bahagia atau berhasil

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang mukmin sejati tidak pendendam.
Jika seseorang terus menyimpan dendam, maka imannya belum sempurna.

Pelajaran

Mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri berarti:

  • Mau memaafkan

  • Tidak menyimpan kebencian

  • Mendoakan kebaikan, bukan keburukan

3. Dijauhkan dari Sifat Gembira atas Musibah Orang Lain

Ada orang yang senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah.
Ini adalah akhlak yang sangat buruk.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu, nanti Allah akan merahmatinya dan menimpakan musibah itu kepadamu.”

Kisah Ulama Salaf

Seorang wali Allah bernama Sari as-Saqathi رحمه الله berkata:

“Aku beristighfar kepada Allah selama 30 tahun.”

Ketika ditanya sebabnya, beliau menjelaskan:
Suatu hari terjadi kebakaran besar di pasar. Orang datang memberitahu:
“Semua toko terbakar, kecuali toko Anda.”

Beliau spontan mengucap: “Alhamdulillah.”
Setelah itu beliau sadar, ucapannya mengandung rasa senang atas musibah yang menimpa orang lain.
Sejak saat itu, beliau terus beristighfar selama 30 tahun.

Pelajaran

Seorang mukmin:

  • Sedih jika saudaranya tertimpa musibah

  • Mendoakan, bukan bergembira

  • Membantu, bukan mencibir

4. Dijauhkan dari Sifat Menyakiti Orang Lain

Hadits ini juga melarang kita untuk:

  • Menyakiti

  • Mengganggu

  • Menyusahkan

  • Membahayakan orang lain

Contoh Teladan

Seorang ulama bernama Sahl at-Tustari رحمه الله memiliki banyak tikus di rumahnya.
Orang menyarankan untuk memelihara kucing agar tikus-tikus itu lari.

Beliau menolak, karena khawatir:

“Kalau tikus-tikus itu lari ke rumah tetangga, berarti aku menyelamatkan diriku dengan menyusahkan orang lain.”

Pelajaran

Mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri berarti:

  • Tidak mencari keamanan dan kenyamanan pribadi dengan cara menyusahkan orang lain

5. Jalan Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
(HR. مسلم)

Artinya:
“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan.”

6. Contoh dalam Berdagang

Seorang pedagang yang mengamalkan hadits ini:

  • Tidak mengambil keuntungan berlebihan

  • Menjual barang dengan harga yang ia sendiri rela membelinya

  • Jujur dalam kualitas dan timbangan

Kisah Ulama

Dikisahkan seorang wali Allah menjual kain seharga 10 dirham.
Ada pembeli yang tidak tahu harga pasar dan ingin membeli dengan 40 dirham.

Pedagang itu menolak dan berkata:

“Aku tidak ingin mengambil keuntungan yang aku sendiri tidak rela jika diperlakukan seperti itu.”

Ukuran Akhlak

Bukan:

“Apakah pembeli rela?”
Tapi:
“Kalau aku di posisi dia, apakah aku rela diperlakukan seperti ini?”

7. Janji Rasulullah ﷺ

Orang yang:

  • Beriman

  • Mencintai kebaikan untuk orang lain

  • Tidak dengki

  • Tidak dendam

  • Tidak menyakiti

  • Tidak khianat

Maka Rasulullah ﷺ menjanjikan:

Dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

8. Ringkasan Materi

Hadits ke-13 Mengajarkan:

  1. Mencintai kebaikan untuk sesama Muslim

  2. Menjauhi:

    • Dengki (hasad)

    • Khianat

    • Dendam

    • Gembira atas musibah orang lain
      Menyakiti sesama

  3. Bersikap adil dan jujur dalam muamalah

  4. Menjadi jalan menuju surga

Penutup Pelajaran

Hadits ini bukan hanya untuk lisan, tetapi untuk:

  • Hati

  • Perilaku

  • Muamalah

  • Hubungan sosial

Siapa yang menghidupkan hadits ini, maka ia telah membangun masyarakat yang penuh kasih sayang, kejujuran, dan keberkahan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3