HADITS 12

 

Hadits tentang Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat

Pendidikan Manajemen Diri dan Kualitas Keislaman

Hadits yang dibahas dalam bab ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Rasulullah bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi – hadis hasan)

Hadits ini termasuk kaidah agung dalam pembinaan akhlak dan manajemen kehidupan seorang Muslim. Dalam kajian Hadits Tarbawi, hadits ini menjadi dasar pendidikan pengendalian diri (self management), manajemen waktu, dan integritas pribadi.


A. Makna Umum Hadits

Ungkapan husnu al-Islam (baiknya Islam seseorang) menunjukkan kualitas, bukan sekadar status. Seseorang mungkin telah berislam secara formal, tetapi belum tentu mencapai kualitas Islam yang baik.

Ukuran kualitas itu, menurut hadits ini, terletak pada kemampuan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat (mā lā ya‘nīhi), baik dalam bentuk:

  • Perkataan
  • Perbuatan
  • Pikiran
  • Aktivitas kehidupan

Para ulama menjelaskan bahwa perkara “tidak bermanfaat” mencakup tiga kategori utama:

1. Perkara yang Diharamkan (al-Muharramāt)

Segala yang dilarang Allah pasti tidak membawa manfaat hakiki, meskipun secara lahir tampak menguntungkan. Dampaknya bisa berupa kerusakan moral, sosial, atau kerugian akhirat.

Dalam pendidikan Islam, ini adalah tahap dasar pembinaan: menjauhkan peserta didik dari perbuatan haram.

2. Perkara yang Makruh (al-Makrūhāt)

Makruh bukan dosa jika dilakukan, tetapi meninggalkannya lebih utama. Pendidikan yang tinggi tidak hanya berhenti pada “tidak berdosa”, tetapi menuju “lebih baik”.

3. Berlebih-lebihan dalam Perkara Mubah (Fuḍūlul Mubāḥāt)

Inilah wilayah yang sering luput dari perhatian. Perkara mubah (boleh) dapat berubah menjadi tidak bermanfaat jika dilakukan secara berlebihan hingga melalaikan kewajiban atau mengurangi kualitas ibadah.

Dalam konteks mahasiswa, misalnya:

  • Terlalu lama berselancar di media sosial.
  • Terlalu banyak berbincang tanpa tujuan ilmiah.
  • Aktivitas hiburan yang melampaui batas kebutuhan.

Semua itu pada dasarnya boleh, tetapi menjadi penghalang kualitas diri jika berlebihan.


B. Konsep Manfaat dalam Perspektif Islam

Islam tidak memandang manfaat hanya dari sudut duniawi. Perkara yang bermanfaat memiliki tingkatan:

1️ Bermanfaat di Dunia dan Akhirat

Contohnya: sedekah, membantu sesama, mengajar ilmu.
Manfaatnya dirasakan di dunia dan berpahala di akhirat. Ini tingkatan tertinggi.

2️ Bermanfaat di Akhirat

Seperti membaca Al-Qur’an, zikir, shalat sunnah, dan ibadah lainnya. Secara lahir mungkin tidak menghasilkan materi, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.

3️ Bermanfaat di Dunia dan Mengantarkan ke Akhirat

Perkara mubah yang diniatkan karena Allah, seperti bekerja mencari nafkah untuk keluarga dengan niat ibadah.

Dalam pendidikan Islam, niat menjadi faktor transformasi. Aktivitas biasa dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk kebaikan.


C. Keteladanan Abdullah bin Salam

Rasulullah pernah menyebut bahwa akan datang seorang ahli surga. Ternyata yang datang adalah Abdullah bin Salam radhiyallāhu ‘anhu.

Ketika ditanya tentang amalannya, beliau menjawab dengan rendah hati bahwa ia tidak merasa memiliki amalan luar biasa. Namun ia menjaga dua hal:

  1. Hatinya bersih dari niat buruk terhadap kaum Muslimin.
  2. Ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.

Pelajaran tarbawi dari kisah ini adalah bahwa kualitas spiritual tidak selalu tampak dalam amal besar, tetapi dalam kebersihan hati dan kontrol diri terhadap hal-hal yang sia-sia.


D. Keutamaan Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat

Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang membaguskan Islamnya akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas keislaman memengaruhi kualitas pahala.

Sebaliknya, orang yang banyak melakukan perkara sia-sia akan kehilangan keberkahan waktu dan amalnya.

Dalam pendidikan Islam, waktu adalah amanah. Manajemen waktu menjadi bagian dari pembinaan karakter. Mahasiswa yang mampu menghindari kesia-siaan akan lebih produktif, fokus, dan bernilai.


E. Tanda Allah Berpaling dari Seorang Hamba

Sebagian ulama seperti Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan bahwa tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah ketika Allah menyibukkannya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Ia sibuk, tetapi tanpa nilai.
Ia lelah, tetapi tanpa pahala.

Dampaknya antara lain:

  • Hilangnya manisnya ibadah.
  • Shalat terasa berat.
  • Al-Qur’an tidak lagi menyentuh hati.
  • Majelis ilmu terasa membosankan.

Dalam perspektif pendidikan, ini menunjukkan pentingnya menjaga fokus hidup agar tidak terjebak dalam distraksi yang mengikis spiritualitas.


F. Pendidikan Lisan dan Etika Berbicara

Banyak perkara yang tidak bermanfaat muncul melalui lisan. Setiap kalimat akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam konteks modern, ini juga mencakup:

  • Komentar di media sosial.
  • Penyebaran informasi yang tidak jelas.
  • Diskusi tanpa dasar ilmiah.

Mahasiswa PAI sebagai calon pendidik harus menjadi teladan dalam etika komunikasi: berbicara seperlunya, bermakna, dan membawa maslahat.


G. Prinsip Pengembangan Akal dan Agama

Imam Syafi'i rahimahullah menyebutkan tiga hal yang menambah kecerdasan dan memperbaiki agama:

  1. Duduk bersama ulama.
  2. Bergaul dengan orang saleh.
  3. Meninggalkan perkataan yang tidak berguna.

Sebaliknya, akal melemah jika sering bergaul dengan kebodohan dan kesia-siaan.

Dalam pendidikan Islam, lingkungan (bi’ah tarbawiyyah) sangat menentukan kualitas individu. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.


H. Manajemen Waktu Orang yang Baik Islamnya

Orang yang baik Islamnya memanfaatkan waktu untuk:

  1. Munajat kepada Allah (shalat, zikir, membaca Al-Qur’an).
  2. Muhasabah (evaluasi diri).
  3. Tafakur (berpikir mendalam).
  4. Menunaikan hak-hak keluarga dan masyarakat.

Aktivitas hidupnya tidak lepas dari:

  • Persiapan untuk akhirat.
  • Mencari nafkah halal.
  • Menikmati kesenangan yang dibolehkan dengan penuh syukur.

Inilah keseimbangan pendidikan Islam: spiritual, sosial, dan personal.


I. Relevansi Hadits dalam Pendidikan Modern

Di era digital, tantangan terbesar bukan kekurangan aktivitas, tetapi kelebihan distraksi. Hadits ini menjadi sangat relevan karena:

  • Media sosial mendorong komentar tanpa makna.
  • Informasi berlimpah tetapi tidak semuanya bermanfaat.
  • Waktu mudah terbuang tanpa disadari.

Mahasiswa PAI perlu menjadikan hadits ini sebagai prinsip hidup: selektif dalam berbicara, selektif dalam beraktivitas, dan selektif dalam memilih informasi.


Kesimpulan

Hadits ini mengajarkan dua prinsip besar dalam pendidikan Islam:

Melakukan yang bermanfaat adalah kebaikan.
Meninggalkan yang tidak bermanfaat adalah kebaikan.

Sebaliknya:

Meninggalkan yang bermanfaat adalah kerugian.
Melakukan yang tidak bermanfaat adalah keburukan.

Baiknya Islam seseorang tampak pada kemampuannya mengelola diri, menjaga waktu, dan menyaring aktivitasnya berdasarkan nilai manfaat dunia dan akhirat.

Bagi mahasiswa PAI, hadits ini menjadi pedoman pembentukan karakter pendidik yang fokus, produktif, dan bernilai. Setiap ucapan dan tindakan perlu ditimbang:

  • Apakah bermanfaat?
  • Apakah mendekatkan kepada Allah?
  • Apakah memberi dampak positif bagi orang lain?

Jika ya, lakukan.
Jika tidak, tinggalkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang baik keislamannya dan mampu memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bernilai.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS 5

HADITS 3