HADITS 1
Hadits Pertama: Amalan Tergantung pada Niat
Dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kedudukan Hadits Ini
Para ulama menyatakan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits pokok dalam Islam.
Imam Ahmad menyebutnya sebagai pondasi agama (ushul al-Islam).
Imam Syafi’i mengatakan hadits ini bisa masuk ke dalam 70 bab fikih.
Sebagian ulama menyebutnya sebagai sepertiga Islam (tsulutsul Islam).
Hadits ini menjadi dasar seluruh amal ibadah. Karena setiap amal pasti didahului oleh niat.
Pentingnya Niat
1️⃣ Amal Tidak Sah Tanpa Niat
Tidak ada amal kecuali dengan niat.
Orang yang tidur atau orang gila tidak disebut beramal karena tidak memiliki niat.
Namun orang yang berakal, setiap perbuatannya pasti memiliki niat, baik ia sadari atau tidak.
2️⃣ Yang Dinilai Adalah Niatnya
Yang sah secara fikih belum tentu diterima di sisi Allah.
Karena Allah melihat hati dan niatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نية المؤمن خير من عمله، ونية الفاجر شر من عمله
“Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya, dan niat orang fajir lebih buruk daripada amalnya.”
Mengapa orang mukmin beribadah 60 tahun lalu masuk surga selamanya?
Karena niatnya jika ia hidup selamanya, ia akan terus beriman dan taat.
Sebaliknya orang kafir, niatnya akan terus kafir jika hidup selamanya, sehingga ia dihukum sesuai niatnya.
Macam-Macam Niat
1️⃣ Niat karena siapa (Ikhlas)
Yaitu niat yang ditujukan untuk Allah dan akhirat.
Inilah yang disebut ikhlas.
2️⃣ Niat jenis amalnya
Niat untuk membedakan:
Mana adat (kebiasaan)
Mana ibadah
Contoh:
Tidak makan bisa karena diet (adat)
Tidak makan karena puasa (ibadah)
Niatlah yang membedakan.
Fungsi Niat
1. Membedakan adat dan ibadah
2. Membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya
Contoh:
Shalat wajib dan shalat sunnah
Shalat witir dan shalat rawatib
Puasa Ramadhan dan puasa sunnah
Semua dibedakan dengan niat.
Kisah Muhajir Ummu Qais
Ada seorang lelaki yang hijrah untuk menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais.
Maka orang-orang menyebutnya:
“Muhajir Ummu Qais”
Karena hijrahnya bukan karena Allah, tetapi karena wanita tersebut.
Ini menunjukkan betapa pentingnya niat.
Bagaimana Jika Amal Tercampur Riya’?
1️⃣ Jika sejak awal riya → batal seluruhnya
2️⃣ Jika awalnya ikhlas, lalu di tengah berubah menjadi riya → batal sejak ia riya
3️⃣ Jika awalnya ikhlas, lalu memperindah ibadah karena dilihat orang → tambahan itu yang batal
4️⃣ Jika dipuji tanpa dicari → itu kabar gembira
Rasulullah ﷺ bersabda:
تلك عاجل بشرى المؤمن
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi orang beriman.”
(HR. Muslim)
Tingkatan Amal Berdasarkan Niat
Dua orang bisa shalat sama.
Namun pahala keduanya sangat berbeda.
Dua orang bisa sedekah sama.
Namun nilainya berbeda di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لا تسبوا أصحابي...
“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud infak mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena keikhlasan dan niat para sahabat jauh lebih tinggi.
Orang yang Berniat Baik Namun Terhalang
Ada dua keadaan:
1️⃣ Amal itu kebiasaannya
Jika biasa shalat malam, lalu sakit → tetap dapat pahala sempurna.
إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيماً صحيحاً
“Jika seorang hamba sakit atau safar, dicatat baginya pahala seperti ketika ia sehat dan mukim.”
(HR. Bukhari)
2️⃣ Amal bukan kebiasaan
Jika ia sudah berniat sungguh-sungguh namun terhalang → dapat pahala niatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فهو بنيته فأجرهما سواء
“Ia mendapatkan sesuai niatnya dan pahala keduanya sama.”
(HR. Tirmidzi)
Bahaya Niat Buruk
Seseorang bisa tidak jadi berbuat dosa, tetapi tetap berdosa karena niatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار
“Jika dua muslim saling berhadapan dengan pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, kalau yang membunuh wajar, lalu bagaimana dengan yang terbunuh?”
Beliau menjawab:
إنه كان حريصاً على قتل صاحبه
“Karena ia juga berkeinginan membunuh saudaranya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa niat saja sudah memiliki konsekuensi.
Kesimpulan Besar Hadits Ini
Amal tanpa niat tidak sah.
Nilai amal tergantung niatnya.
Ikhlas adalah ruh seluruh ibadah.
Riya merusak amal.
Niat baik bisa berpahala walau belum sempat beramal.
Niat buruk bisa berdosa walau belum sempat berbuat.
Jika niat baik → seluruh amal menjadi baik.
Jika niat rusak → seluruh amal menjadi rusak.
Karena itu para ulama berkata:
“Perbaikilah niatmu, maka Allah akan memperbaiki amalmu.”
Komentar
Posting Komentar